Indeks Manufaktur AS Mengecewakan, Rupiah Perkasa di Rabu Sore

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – Rupiah mampu bertahan di area hijau pada Rabu (4/9) sore setelah indeks AS dilaporkan lebih rendah dari perkiraan, yang memicu penurunan mata uang AS. Menurut paparan Index pada pukul 15.50 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat 61 poin atau 0,43% ke level Rp14.167 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.218 per dolar AS, melemah tipis 1 poin atau 0,01% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.217 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang kompak menguat pada hari ini, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,50% dicatatkan won Korea Selatan.

Seperti diberitakan , rupiah mampu bergerak lebih tinggi setelah Indonesia mengatakan akan memotong PPh Badan untuk memikat lebih banyak dari luar negeri. Selain itu, pergerakan positif mata uang domestik juga didorong turunnya indeks dolar AS karena indeks manufaktur negara tersebut yang lebih buruk dari perkiraan.

Menurut laporan Reuters, indeks dolar AS memang harus bergerak lebih rendah pada perdagangan Rabu, karena data manufaktur AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Mata uang Paman Sam terdepresiasi 0,176 poin atau 0,18% ke level 98,824 pada pukul 15.40 WIB, berbanding terbalik dari penguatan di sesi sebelumnya.

Data aktivitas sektor manufaktur yang dirilis Institute for Supply Management (ISM) mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. ISM baru saja melaporkan bahwa indeks aktivitas pabrik nasional turun menjadi 49,1, jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka 51,1 yang diperkirakan oleh analis dalam survei Reuters.

Hal tersebut membuat yang sebelumnya cukup digdaya, harus berbalik drop karena meningkatkan taruhan mereka pada beberapa pemotongan suku bunga Federal Reserve sebelum Natal. Pemotongan sebesar 25 basis poin kini sepenuhnya dihargai, sementara hasil pada benchmark Treasury 10-tahun, yang jatuh ketika harga naik, turun ke level terendah dalam dua tahun.

“Harapan bahwa Federal Reserve akan datang untuk menyelamatkan perekonomian negara telah meningkat,” kata ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril. “Tetapi, itu bukan kapitalisasi pada dolar AS, melainkan hanya menghentikan kenaikan dolar AS yang terjadi baru-baru ini.”

Loading...