Libur Thanksgiving, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - ekbis.co.idRupiah - ekbis.co.id

JAKARTA – mampu bertahan di area hijau pada perdagangan Kamis (28/11) sore pada perayaan libur Thanksgiving ketika penandatanganan undang-undang AS tentang demonstrasi di Hong Kong memicu memburu aset safe haven. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.092 per AS.

Sementara itu, Bank siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.099 per dolar AS, terdepresiasi tipis 3 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.096 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,21% dialami won Korea Selatan dan kenaikan tertinggi sebesar 0,12% dialami peso Filipina.

Dari pasar , indeks dolar AS perlahan berbalik turun pada hari Kamis di tengah kabar yang menyebutkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, menandatangani undang-undang yang mendukung para demonstran Hong Kong, menambah tensi negosiasi dengan China. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,040 poin atau 0,04% ke level 98,330 pada pukul 13.05 WIB.

Diberitakan CNBC, aset safe haven seperti yen Jepang menerima dukungan luas, setelah Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang yang mendukung pengunjuk rasa anti-pemerintah di Hong Kong. Menanggapi langkah AS, Kementerian Luar Negeri China mengatakan pihaknya dengan tegas menentang undang-undang dan mengancam akan mengambil tindakan balasan yang tegas, mempersulit upaya untuk menghentikan perang dagang selama 16 bulan.

“Yen diburu karena berita tentang Trump menandatangani undang-undang terkait Hong Kong,” kata ahli strategi valuta asing di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Perdagangan algorithmic dapat mendorong yen naik lebih jauh, tetapi kerugian dolar AS akan terbatas karena investor memiliki data ekonomi AS yang positif, yang telah mengangkat sentimen.”

Pertumbuhan ekonomi AS sedikit meningkat pada kuartal ketiga 2019, bukannya melambat seperti yang dilaporkan sebelumnya, pada laju akumulasi inventaris yang lebih kuat dan penurunan bisnis yang kurang tajam. Data terpisah menunjukkan pesanan baru untuk barang-barang utama buatan AS meningkat paling banyak dalam sembilan bulan pada Oktober kemarin.

Loading...