Kebal Virus Corona, Rupiah Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

JAKARTA – Ketika mayoritas emerging market limbung karena wabah di , sekaligus mengangkat aset safe haven, justru mampu menajamkan penguatan pada Jumat (24/1) sore. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.47 WIB, menguat 56 poin atau 0,41% ke level Rp13.583 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan berada di posisi Rp13.632 per dolar AS, terdepresiasi 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.626 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,36% dialami rupiah, sedangkan pelemahan terdalam sebesar 0,56% menghampiri yuan China.

“Aliran investasi ke aset keuangan dalam negeri, terutama SBN (Surat Berharga Negara), masih tetap tinggi ketika global lesu akibat epidemik virus corona baru di China,” tutur Nanang Hendarsah dari Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, dilansir Bisnis. “Ke SBN masih tetap tinggi, terutama merespon hasil keputusan BI yang menetapkan policy rate tetap.”

Dari pasar global, euro melayang di dekat level terendah tujuh minggu terhadap dolar AS pada hari Jumat setelah Bank Sentral Eropa dipandang lebih berhati-hati dari yang diharapkan, sedangkan kecemasan atas wabah virus corona China menopang yen sebagai aset safe haven. Euro sedikit bergerak ke 1,1055 terhadap greenback, setelah menyentuh level terendah tujuh minggu 1,1036 dolar AS pada hari Kamis (23/1) kemarin.

Dilansir Reuters, European Central Bank (ECB) meluncurkan tinjauan luas kebijakannya, berusaha untuk mendefinisikan kembali tujuan utamanya dan bagaimana mencapainya, karena tahun-tahun percobaan dengan suku bunga negatif dan pelonggaran kuantitatif telah gagal memberikan tingkat inflasi yang ditargetkan. Presiden ECB, Christine Lagarde, mengatakan bahwa risiko untuk pertumbuhan di zona Eropa tetap miring ke bawah dan pedagang mengambil nada keseluruhan sebagai dovish.

Mata uang bersama Benua Biru juga dirusak oleh ancaman virus corona di China karena beberapa negara di blok itu, terutama Jerman, memiliki exposure perdagangan besar kepada raksasa ekonomi Asia. Kekhawatiran tentang penyebaran penyakit baru ini memperkuat yen, yang diperdagangkan pada level 109,45 terhadap dolar AS, setelah naik ke posisi tertinggi dua minggu di 109,26 pada hari Kamis.

Loading...