Aset Risiko Diincar, Rupiah Menguat Jelang Tutup Tahun

Rupiah menguatRupiah menguat pada perdagangan Senin (30/12) sore - www.ayobandung.com

JAKARTA – terus melaju dengan mantap di zona hijau pada Senin (30/12) sore ketika selera investor terhadap berisiko meningkat jelang tutup tahun, didukung peningkatan hubungan dan . Menurut catatan Index pada pukul 15.06 WIB, mata uang Garuda menguat 27 poin atau 0,2% ke level Rp13.925 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.945 per , menguat 11 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.956 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia sukses mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,41% menghampiri won Korea Selatan.

Mata uang Benua Kuning relatif naik karena pedagang melepas kepemilikan dolar AS mereka menjelang akhir tahun. Selera aset berisiko juga terus didukung oleh peningkatan hubungan antara AS dan China. “Minat terhadap aset berisiko yang mendasari tetap kuat karena harapan bahwa kesepakatan fase satu AS-China akan ditandatangani,” tutur ekonomi emerging market Dai-ichi Life Research Institute Inc., Toru Nishihama.

Dari , indeks dolar AS berada pada posisi defensif pada hari Senin dalam perdagangan akhir tahun yang sepi setelah mengalami kemunduran pada sesi sebelumnya, karena harapan kesepakatan perdagangan AS-China mengangkat pamor aset berisiko, sekaligus mengurangi permintaan aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,119 poin atau 0,12% ke level 96,800 pada pukul 12.19 WIB.

Dilansir Reuters, pada pekan lalu, otoritas China mengatakan bahwa Beijing sudah melakukan kontak dekat dengan Washington tentang perjanjian perdagangan awal. Sebelum pernyataan itu, Presiden AS, Donald Trump, telah membicarakan upaya penandatanganan untuk kesepakatan perdagangan fase 1 yang baru-baru ini terjadi.

“Apa yang benar-benar terlihat adalah kisaran mata uang yang sempit sepanjang tahun,” kata kepala ahli strategi yang berbasis di Siprus di ACLS Global, Marshall Gittler. “Saya berharap lebih pada tahun 2020, karena dua alasan, yakni akhir yang diharapkan dari perang perdagangan China-AS yang akan mengarah pada pemulihan ekonomi yang lebih luas di seluruh dunia dan bahwa inflasi tampaknya telah mencapai titik terendah.”

Loading...