Kamis Sore, Rupiah Menguat Jelang Pidato Ketua The Fed

Rupiah - fajar.co.idRupiah - fajar.co.id

JAKARTA – Sempat limbung, mampu bertengger di teritori hijau pada perdagangan Kamis (27/8) sore ketika para investor menantikan pidato Gubernur dalam retret tahunan. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 17,5 poin atau 0,12% ke level Rp14.660 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.714 per AS, terdepresiasi 78 poin atau 0,53% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.632 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga takluk melawan , termasuk yen Jepang, won Korea Selatan, dan dolar Singapura.

“Dari dalam negeri, sentimen tertuju pada pernyataan Gubernur DKI Jakarta mengenai masa transisi PSBB yang berakhir tanggal 27 Agustus 2020, apakah akan diperpanjang masa atau berubah menjadi new normal dengan syarat,” tutur Direktur Utama Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Keputusan ini sangat penting karena kuartal III/2020 tinggal menyisakan 1 bulan lagi.”

Dari pasar global, indeks dolar AS berkubang mendekati level terendah untuk minggu ini pada hari Kamis, ketika investor mencari petunjuk dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, bahwa bank sentral mungkin mengubah kerangka kebijakannya untuk membantu mendorong inflasi. Mata uang Paman Sam melemah 0,165 poin atau 0,18% ke posisi 92,841 pada pukul 15.54 WIB.

Dikutip dari Reuters, Powell dijadwalkan untuk berpidato di konferensi bank tahunan The Fed pada Kamis ini waktu setempat, yang biasanya diadakan di Jackson Hole, Wyoming, tetapi kali ini dilakukan secara daring karena pandemi COVID-19. Investor bertaruh bahwa bank sentral AS akan memperkenalkan kerangka kebijakan baru untuk melawan inflasi yang terus-menerus rendah pada awal bulan depan.

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mengubah sistem target inflasi. Selama ini, inflasi ditargetkan 2% dalam jangka menengah-panjang, tetapi sepertinya target tersebut menjadi kurang relevan dalam kondisi saat ini. “Mungkin The Fed akan mengubah target menjadi rata-rata, bukan angka pasti seperti 2%. Artinya, kemungkinan suku bunga rendah akan bertahan dalam waktu yang cukup lama,” kata Senior Investment Analyst di XM, Raffi Boyadjian.

Loading...