Kamis Sore, Rupiah Meroket 2,28% Jelang Libur Paskah

Rupiah - baca.co.idRupiah - baca.co.id

JAKARTA – melenggang mulus di teritori hijau pada Kamis (9/4) sore, jelang Paskah, bersamaan dengan aset berisiko lainnya di tengah ketidakpastian seputar puncak dan akhir pandemi virus corona. Menurut data Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda meroket 370 poin atau 2,28% ke level Rp15.880 per dolar AS.

Sementara itu, hari ini menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp16.241 per dolar AS, menguat tipis 4 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.245 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga mampu mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,35% dialami won Korea Selatan.

Seperti diberitakan Reuters, harga di Asia pada hari ini terpantau naik, mengikuti kenaikan ekuitas di Wall Street, sehingga mata uang berisiko juga terkena imbasnya di tengah optimisme bahwa pandemi virus corona mungkin akan segera memuncak. Dolar AS sedikit berubah, dengan menguat 0,160 poin atau 0,16% ke level 100,279 pada pukul 13.16 WIB.

Gubernur New York, Andrew Cuomo, mengatakan pada hari Rabu (8/4) bahwa upaya-upaya menjaga jarak sosial bekerja untuk mengendalikan penyebaran virus, meskipun negara bagian yang paling parah di AS melaporkan jumlah kematian tertinggi dalam satu hari. Presiden AS, Donald Trump, juga sempat bilang bahwa dia ingin membuka kembali perekonomian, tetapi jumlah korban tewas pertama-tama harus turun.

yang terkonfirmasi dari virus corona baru melebihi 1,41 juta secara global dan jumlah kematian mencapai 83.400 jiwa, menurut penghitungan Reuters. Dalam upaya untuk mendukung yang dilanda wabah, dan bank sentral di seluruh dunia telah mengeluarkan stimulus fiskal dan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Dengan dolar AS menunjukkan tanda-tanda kelemahan, harga logam emas akan tetap didukung,” ujar kepala strategi pasar di perusahaan jasa keuangan AxiCorp, Stephen Innes, dalam sebuah catatan. “Volume perdagangan telah meruncing selama 24 jam terakhir karena sentimen risiko telah stabil dan mulai membaik.”

Senada, analis ANZ, Daniel Hynes, menuturkan bahwa saham yang lebih kuat menghilangkan minat investor untuk emas, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkannya. Ia menambahkan bahwa logam mulia juga merupakan salah satu aset yang erat mengikuti pergerakan di pasar minyak. Minyak mentah berjangka sendiri naik di tengah harapan bahwa produsen minyak terbesar setuju memangkas produksi.

Loading...