Kamis Sore, Rupiah Meroket 2,7% Jelang Hari Buruh Internasional

mata uang rupiah - www.cnbcindonesia.commata uang rupiah - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Rupiah praktis bergerak sangat nyaman di zona hijau hingga perdagangan Kamis (30/4) sore jelang May Day, ketika kembali meminati aset berisiko seiring dengan tanda-tanda semakin berkurangnya kasus . Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.56 WIB, Garuda bahkan meroket 413 poin atau 2,7% ke level Rp14.882 per AS.

Sementara itu, Bank pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di posisi Rp15.157 per dolar AS, menguat 258 poin atau 1,67% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.415 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia mengungguli greenback, dipimpin rupiah yang mengalami apresiasi sebesar 2,03%.

Dari global, indeks dolar AS berusaha keluar dari zona merah pada hari Kamis, setelah Federal Reserve membiarkan pintu terbuka untuk pelonggaran moneter lebih lanjut dan mengurangi harapan untuk pemulihan cepat dari pandemi coronavirus. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,024 poin atau 0,02% menuju level 99,541 pada pukul 12.29 WIB.

Seperti dilansir Reuters, gerak mata uang greenback juga terbebani karena tanda-tanda pandemi corona mulai reda di banyak , sehingga mengurangi permintaan aset safe haven untuk menyimpan dana dalam dolar AS. Selain itu, yang meningkatkan selera untuk mata uang berisiko adalah hasil uji coba positif dari pengobatan COVID-19 eksperimental.

Di belahan Eropa, euro bertahan stabil sebelum pertemuan Bank Sentral Eropa pada hari Kamis waktu setempat, dengan pembuat kebijakan diprediksi cenderung untuk memperluas pembelian utang untuk memasukkan obligasi dan mengambil langkah-langkah lain guna meringankan kondisi di pasar kredit. Lebih banyak negara mengambil langkah-langkah untuk membuka kembali perekonomian mereka, memberikan beberapa alasan untuk optimisme.

“The Fed telah banyak melonggarkan kebijakan, tetapi fakta bahwa mereka mengatakan akan bersedia untuk melakukan lebih banyak lagi telah membuat dolar AS melemah,” kata kepala riset pasar global di MUFG Bank di Tokyo, Minori Uchida. “Saya pikir, dolar AS terhadap yen akan melayang lebih rendah. Euro bisa mendapatkan keuntungan dari pelemahan greenback selama obligasi zona Eropa tidak banyak melebar.”

Loading...