Jumat Sore, Rupiah Menguat Saat Dolar Fluktuatif

Rupiah - www.businesstimes.com.sgRupiah - www.businesstimes.com.sg

JAKARTA – Rupiah sanggup mempertahankan posisi di teritori hijau pada perdagangan Jumat (25/10) sore ketika bergerak saat pound sterling melemah akibat ketidakpastian Brexit. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.55 WIB, Garuda menguat 21 poin atau 0,15% ke level Rp14.038 per dolar .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.064 per , terdepresiasi 68 poin atau 0,48% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.996 per . Di saat yang hampir bersamaan, gerak mata uang Asia relatif sempit, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,15% dialami peso Filipina dan pelemahan terdalam sebesar 0,05% menghampiri ringgit Malaysia.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau fluktuatif pada hari Jumat, saat pound sterling mengalami pelemahan setelah panggilan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, untuk pemilihan melemparkan ketidakpastian yang lebih besar mengenai Brexit. Sempat menguat tipis 0,015 poin atau 0,02% ke level 97,646 pada pukul 14.39 WIB, mata uang Paman Sam berbalik melemah 0,56 poin atau 0,06% ke posisi 97,575 pada pukul 15.48 WIB.

Diberitakan Reuters, sentimen untuk pound sterling kemungkinan akan tetap rapuh menjelang pertemuan Jumat malam ketika Uni mungkin dapat memutuskan berapa lama mereka akan memperpanjang batas waktu Inggris untuk meninggalkan Uni melampaui tanggal 31 Oktober. Pada tahap ini, pemilihan tampaknya tidak mungkin karena oposisi utama Partai Buruh telah menahan dukungannya dan partai-partai oposisi lainnya telah menolak tawaran itu.

“Kami konstruktif pada pound sterling dalam jangka menengah, karena kami tidak melihat peluang tinggi untuk digelarnya pemilihan umum,” tutur kepala strategi G10 FX di Citigroup Global Markets Jepang di Tokyo, Osamu Takashima. “Yang saya khawatirkan, begitu ketidakpastian terangkat, pasar akan lebih fokus pada ekonomi Inggris yang melemah dan ini bisa menjadi negatif untuk pound sterling.”

Selain perkembangan Brexit, risiko geopolitik atas terjadinya perang dagang antara AS- yang sedikit mereda kebijakan moneter The Fed akan menjadi fokus pelaku pasar. Kebijakan moneter The Fed atas pemotongan suku bunga sebelumnya sangat dipengaruhi oleh perang dagang dan Brexit, maka saat ini keputusan kebijakan The Fed diprediksi akan sangat kental dengan faktor ekonomi dan keuangan.

Loading...