Kamis Sore, Rupiah Menguat Manfaatkan Pelemahan Dolar

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – ternyata mampu memperbaiki posisi ke area hijau pada Kamis (19/9) sore, ketika indeks AS perlahan berbalik turun setelah memutuskan untuk memangkas acuan. Menurut laporan Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda mengakhiri dengan menguat 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.060 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.099 per dolar AS, terdepresiasi 19 poin atau 0,13% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.080 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,38% dialami won Korea Selatan.

Diberitakan Bloomberg, kurs Benua Kuning harus turun pada hari ini, setelah pembuat kebijakan AS terpecah mengenai perlunya melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut usai mereka memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan. Seperti diketahui, dalam rapat yang berakhir Rabu (18/9) waktu setempat, memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.

Federal Reserve menurunkan suku bunga utama mereka untuk kedua kalinya tahun ini, sedangkan Gubernur The Fed, Jerome Powell, mengatakan bahwa langkah kebijakan moderat cukup untuk mempertahankan ekspansi AS. Bank sentral itu menegaskan bahwa mereka tidak ingin suku bunga pasar uang AS naik lagi seperti yang mereka lakukan awal pekan ini.

Indeks dolar AS sempat mendapatkan angin segar setelah keputusan Federal Reserve. Namun, perlahan greenback berbalik melemah pada siang hari. Mata uang Paman Sam terpantau turun 0,128 poin atau 0,13% ke level 98,433 pada pukul 12.48 WIB, setelah sempat dibuka dengan penguatan tipis sebesar 0,009 poin atau 0,01% di posisi 98,570.

“Dalam jangka pendek, sinyal hawkish ini masih membuat dolar AS memiliki nilai tawar yang baik, mengingat jalur suku bunga yang digariskan oleh The Fed tidak dekat dengan di pasar,” kata Americas FX dan ahli strategi makro di BNY Mellon, John Veils, dilansir Reuters. “Dolar AS masih merupakan mata uang dengan imbal hasil tertinggi di negara G10, tanda bahwa itu juga rumah yang paling tidak menarik di lingkungan yang semakin suram.”

Loading...