Rupiah Menguat di Tengah Pelemahan USD Terhadap Euro & Poundsterling

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Jakarta – Mengawali pagi hari ini, Jumat (2/11), dibuka menguat 40 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp 15.088 per AS. Sebelumnya, Kamis (1/11), Garuda berakhir terapresiasi 75 poin atau 0,49 persen ke level Rp 15.128 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau melemah terhadap sekeranjang mata uang utama di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB. Dolar AS melemah di tengah penguatan euro dan pound sterling lantaran memberikan respons yang positif terhadap kesepakatan Brexit antara pihak Uni Eropa dan Inggris.

Pada akhir perdagangan Kamis (1/11), pound sterling dan euro kompak melonjak dengan mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 1,94 persen dan 0,86 persen. Sekretaris Brexit Inggris, Dominic Raab, pada Rabu (31/10) menyatakan, ia dijadwalkan menandatangani perjanjian Brexit Uni Eropa-Inggris di akhir November 2018 ini, sehingga memberi akses pada perusahaan-perusahaan keuangan berbasis di Inggris untuk ke pasar Uni Eropa. Raab pun menambahkan bahwa Inggris dan Uni Eropa sepakat untuk menciptakan kemajuan yang baik pada struktur dan ruang lingkup perjanjian mendatang.

Di sisi lain, rupiah berhasil menguat usai Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Oktober 2018. Dalam laporannya, BPS menyatakan bahwa bulan lalu tergolong rendah, hanya 0,28 persen secara month to month (mtm). Sedangkan, secara tahun berjalan atau year to date (ytd) sebesar 2,22 persen dan secara tahunan atau year on year (yoy) sebesar 3,16 persen.

“Datanya merangkak lebih tinggi dari ekspektasi. Kalau meningkat sedikit lagi, peluang (BI) menaikkan suku bunga juga besar,” kata Lukman Leong, Analis Valbury Asia Futures, seperti dilansir Kontan. Lukman menambahkan, besarnya pelemahan dolar AS terhadap mata uang emerging market juga turut menopang gerak rupiah.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, USD masih bergerak mix meski data ADP national employment menunjukkan tingkat pembayaran gaji sektor swasta selama bulan Oktober 2018 mengalami kenaikan dengan laju tertinggi. “Datanya meningkat ke 227.000 dari ekspektasi 187.000, ini mengindikasikan data NFP yang dirilis besok (hari ini) juga cenderung meningkat,” papar Joshua.

Loading...