Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan AS-Timur Tengah

Rupiah - citypost.idRupiah - citypost.id

Jakarta – Nilai tukar dibuka menguat 22 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 15.178,5 per dolar di awal pagi hari ini, Rabu (17/10). Kemarin, Selasa (16/10), kurs mata uang Garuda berakhir terapresiasi 20 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp 15.200,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,01 persen menjadi 95,0482 lantaran para pelaku pasar tengah mencermati sejumlah data Amerika Serikat terbaru.

Sedangkan mata uang emerging market atau berkembang termasuk Indonesia saat ini cenderung menguat karena adanya peningkatan pasar-pasar saham utama yang mencerminkan kenaikan selera pada aset-aset berisiko.

Dari sektor ekonomi, melaporkan pada Selasa (16/10) bahwa produksi Amerika Serikat naik 0,3 persen pada September 2018, melebih perkiraan pasar untuk kenaikan sebesar 0,1 persen. Akan tetapi pada kuartal ketiga secara keseluruhan, produksi maju pada tingkat tahunan 3,3 persen, lebih rendah dari perolehan sebesar 5,3 persen pada kuartal kedua. Kemudian jumlah lowongan pekerjaan mencapai rekor tertinggi baru 7,1 juta pada hari kerja terakhir Agustus, demikian seperti dilaporkan oleh Departemen Tenaga Kerja AS.

Pasar kini tengah fokus pada rilis risalah pertemuan The Fed September pada Rabu waktu setempat. Risalah pertemuan tersebut akan dievaluasi untuk mengetahui indikasi baru terkait berapa banyak kemungkinan kenaikan acuan lebih lanjut.

Dari dalam negeri, rupiah berhasil menguat karena adanya sentimen surplus neraca dagang. Pada Senin (15/10), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada September 2018 surplus USD 227,1 juta. Ini merupakan surplus pertama sejak Juli 2018 lalu.

Menurut Ekonom Bank Central Asia David Sumual, nilai tukar rupiah juga memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS di tengah ketegangan antara AS dengan Timur Tengah. “Sempat ada ketegangan antara AS-Arab Saudi tentang kasus wartawan Washington Post yang juga membuat minyak mentah naik,” kata David, seperti dilansir Kontan.

Akan tetapi sayang rupiah sulit menguat lebih signifikan karena pasar masih khawatir dengan potensi defisit transaksi berjalan kuartal III 2018 lebih besar dari kuartal sebelumnya. Pasalnya, menurut Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong, defisit neraca dagang pada Juli dan Agustus cukup besar.

Loading...