Jumat Sore, Rupiah Menguat Seiring Kurs Asia

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

JAKARTA – Sempat terperosok ke teritori merah, akhirnya mampu berlabuh di zona hijau pada Jumat (28/8) sore, ketika cenderung bergerak lebih rendah sepanjang sesi. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 28 poin atau 0,19% ke level Rp14.632 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.702 per dolar AS, menguat 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.714 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia cenderung bergerak naik terhadap greenback, termasuk yuan China, won Korea Selatan, dan rupee India.

Disalin dari Bisnis, menurut DIrektur Garuda Berjangka, Ibrahim, mencari petunjuk dari Ketua , Jerome Powell, bahwa bank sentral mungkin mengubah kerangka kebijakannya untuk membantu mendorong inflasi sebesar 2%. Sementara, dari dalam negeri, pemerintah melalui Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di akhir tahun 2020 optimis dapat segera menyuntikkan 30 juta dosis vaksin kepada 15 juta orang.

Dari pasar global, indeks dolar AS cenderung bergerak lebih rendah terhadap mata uang utama pada hari Jumat, setelah baru Federal Reserve yang agresif untuk mengangkat lapangan kerja dan meningkatkan toleransi untuk inflasi yang lebih tinggi mendorong imbal hasil AS naik. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,472 poin atau 0,51% ke level 92,529 pada pukul 15.51 WIB.

Berbicara di simposium Jackson Hole, seperti diberitakan Reuters, Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral akan berupaya mencapai inflasi rata-rata 2%, sehingga periode inflasi super rendah kemungkinan akan diikuti dengan upaya untuk mengangkat inflasi. Cukup di atas 2% untuk beberapa waktu dan untuk memastikan pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

“Sejak pertemuan FOMC di bulan Juni, imbal hasil Treasury telah menurun dan dolar AS jatuh, tapi saya pikir itu tidak akan menjadi masalah untuk saat ini, terutama setelah pidato Fed,” ujar kepala strategi mata uang di Mizuho Securities di Tokyo,” kata Masafumi Yamamoto. “Pasar lebih cenderung melihat imbal hasil Treasury yang lebih tinggi.”

Loading...