Kamis Sore, Rupiah Tetap Menguat Saat Aset Safe Haven Diburu

Rupiah - manado.tribunnews.comRupiah - manado.tribunnews.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada Kamis (29/8) sore ketika sentimen risk-off masih mendominasi keuangan, yang membuat lebih memburu aset yang lebih aman. Menurut Index pada pukul 15.50 WIB, Garuda menguat 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.239 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.254 per dolar AS, menguat 9 poin atau 0,06% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.263 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,30% dialami ringgit Malaysia.

Seperti disampaikan CNBC, sentimen risk-off mendukung aset safe haven seperti yen Jepang untuk terus bergerak menguat, dengan rekor terendah imbal hasil Treasury AS 30-tahun menahan pergerakan dolar AS di tengah kekhawatiran mengenai tensi dagang. Mata uang Paman Sam terpantau cuma naik tipis 0,031 poin atau 0,03% ke level 98,241 pada pukul 15.43 WIB, sedangkan yen melonjak hingga 0,30%.

Mata uang Negeri Sakura juga menguat terhadap dolar Australia dan dolar Selandia Baru, yang mencapai titik terendah empat tahun karena sentimen melemah. Di belahan Eropa, pound sterling bergerak datar, setelah kemarin sempat drop akibat kekhawatiran bahwa kemungkinan Brexit tidak berujung pada kesepakatan.

“Sangat sulit untuk mengambil risiko besar apa pun dalam situasi seperti sekarang ini,” kepala penelitian di pialang valuta asing di Pepperstone Group, kata Chris Weston, menunjuk pada kurva hasil terbalik sebagai indikator sentimen. “Kami tidak berpikir bahwa negosiasi antara AS dan China akan selesai dalam waktu dekat, sehingga posisi foreign exchange masih dalam posisi defensif.”

Kekhawatiran investor yang mendominasi adalah kurva imbal hasil Treasury AS yang terbalik, dengan imbal hasil jangka panjang lebih rendah daripada yang bertanggal pendek, biasanya dianggap sebagai tanda resesi di masa depan. Sentimen di pasar mata uang juga masih dipengaruhi oleh perselisihan perdagangan AS-China, yang masih jauh dari kata sepakat.

Loading...