AS Boikot Huawei, Rupiah Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - Jitunews.comRupiah - Jitunews.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di area hijau pada Jumat (9/8) sore, ketika greenback cenderung bergerak lebih rendah menyusul konflik terbaru antara AS dan China yang melibatkan Huawei Technologies. Menurut catatan Index pada pukul 15.54 WIB, Garuda menguat 19 poin atau 0,13% ke level Rp13.194 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan berada di posisi Rp14.195 per dolar AS, menguat 36 poin atau 0,25% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.231 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga sukses mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,33% dialami peso Filipina.

Dari global, indeks dolar AS bergerak lebih rendah pada hari Jumat, menyusul laporan terbaru yang mengatakan bahwa Gedung Putih menunda keputusan untuk mengizinkan perusahaan AS melakukan dengan Huawei Technologies. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,025 poin atau 0,03% ke level 97,593 pada pukul 15.47 WIB.

Dilansir Bloomberg, Huawei Technologies, perusahaan asal China, dituduh AS sebagai spionase dan telah mencuri kekayaan intelektual, memicu aksi penghindaran risiko yang juga mendorong kenaikan emas. Tuduhan tersebut semakin memanaskan hubungan antara Negeri Paman Sam dengan Negeri Panda di tengah konflik perdagangan yang tak kunjung usai.

“Berita tentang Huawei memicu kenaikan yen Jepang,” tutur analis valas senior di IG Securities, Junichi Ishikawa, seperti dikutip Reuters. “Saham AS sedang mencoba untuk melakukan pemulihan, tetapi ini adalah pengingat bahwa sengketa perdagangan AS-China tetap berisiko, dan risiko ini tidak surut. Dalam keadaan ini, mudah bagi yen dan emas untuk naik lebih tinggi.”

Di lain sisi, yuan China juga beringsut turun terhadap dolar AS pada hari Jumat karena para pedagang menunggu langkah Beijing dan Washington berikutnya dalam sengketa dagang mereka yang makin memanas, setelah aksi jual cepat awal pekan ini yang memicu kekhawatiran perang mata uang. Sebelumnya, yuan telah kehilangan 1,6% terhadap greenback minggu ini, menandai kerugian mingguan terburuk sejak Juni 2018.

Loading...