Tensi AS-China Masih Mendominasi, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

JAKARTA – Rupiah harus puas berada di area merah pada Rabu (27/11) sore, ketika mayoritas di Asia cenderung bergerak dalam kisaran yang sempit di tengah sentimen tensi hubungan AS dan China. Menurut laporan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.095 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.096 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,11% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.081 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,15% dialami yuan offshore dan kenaikan tertinggi sebesar 0,06% menghampiri ringgit Malaysia.

Seperti diberitakan Bloomberg, pergerakan mata uang Benua Kuning relatif sempit ketika menantikan perkembangan pembicaraan antara AS dan China. Presiden AS, Donald Trump, pada Selasa (26/11) kemarin menuturkan bahwa ‘fase pertama’ kesepakatan dagang hampir kelar setelah negosiator dari kedua belah pihak berbicara via sambungan telepon.

Dari pasar , indeks dolar AS membukukan kenaikan moderat pada hari Rabu, karena para pedagang bersikap optimis mengenai pembicaraan perdagangan AS-China, sedangkan perkiraan untuk pelonggaran kebijakan moneter menekan dolar Australia. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,110 poin atau 0,11% ke level 98,362 pada pukul 13.32 WIB.

“Pasar sudah lelah memainkan headline pingpong sehubungan dengan negosiasi perdagangan,” kata kepala strategi FX di National Australia Bank di Sydney, Ray Attrill, dilansir Reuters. “Pasar ekuitas tampaknya masih ingin percaya dan optimis bahwa kesepakatan perdagangan akan dilakukan, tapi saya pikir pasar FX dan pasar telah menyerah memainkan itu.”

Jika kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan dengan segera, tanggal penting berikutnya adalah 15 Desember 2019, ketika Washington dijadwalkan untuk mengenakan tarif lebih pada barang-barang asal Negeri Tirai Bambu. Sebelumnya, proteksionisme telah membahayakan laju pertumbuhan global dan memukul sektor manufaktur dengan keras.

Loading...