Target Penjualan Apple Meleset, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

gagal naik ke zona hijau pada Selasa (18/2) sore, ketika pesimisme Apple mengenai penjualan produk mereka sepanjang triwulan pertama tahun 2020 ini akibat wabah virus membuat mayoritas merah. Menurut laporan Index pada pukul 15.37 WIB, Garuda berakhir melemah 37 poin atau 0,25% ke level Rp13.694 per dolar .

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp13.676 per dolar AS, menguat 17 poin atau 0,12% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.693 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia justru tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,38% dialami won Korea Selatan.

Mata uang Benua Kuning, seperti diberitakan Bloomberg, harus bergerak turun setelah Apple Inc. menuturkan bahwa penjualan tiga bulan pertama tahun ini diprediksi akan meleset dari sasaran karena wabah virus corona. Perusahaan asal AS itu memperkirakan tidak akan mencapai target penjualan karena perlambatan kerja dan penurunan permintaan smartphone yang lebih rendah.

“Kekurangan pasokan iPhone untuk sementara waktu akan memengaruhi pendapatan,” ujar manajemen Apple seperti dilansir Reuters. “Pembatasan pembukaan karena pencegahan virus corona telah memengaruhi penjualan di China. Kami secara bertahap membuka kembali ritel kami dan akan terus melakukan dengan baik dan seaman mungkin.”

Tidak cuma kurs di Asia, mata uang dolar Australia dan dolar Selandia Baru pun harus bergerak lebih rendah pada hari Selasa, menyusul peringatan produksi dari Apple yang menyoroti meningkatnya biaya ekonomi karena wabah virus corona. Mata uang Negeri Kanguru dan Negeri Kiwi masing-masing terpantau turun sebesar 0,4% terhadap dolar AS.

Sentimen negatif lainnya datang dari risalah pertemuan kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) terakhir, yang menunjukkan dewan sudah menganggap virus sebagai ancaman bagi ekonomi China dan Australia. Bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga di 0,75% dengan harapan dampaknya akan sementara, meskipun analis tidak begitu yakin.

“Risalah dua minggu dengan eskalasi lebih lanjut dalam kasus virus dan dampak, termasuk gangguan yang lebih besar pada rantai pasokan, keterlambatan jangka waktu untuk siswa China, dan perpanjangan larangan perjalanan ke China daratan,” tutur kepala strategi pendapatan tetap di RBC Capital Markets, Su-Lin Ong. “Data ekonomi Januari dan Februari mungkin tidak akan dirilis sampai Maret atau April, sebelum biaya aktual epidemi diketahui.”

Loading...