BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – ternyata harus berbalik ke teritori merah pada perdagangan Kamis (24/10) sore, setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate). Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 27 poin atau 0,19% ke level Rp14.059 per AS.

Siang tadi, RDG BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5%. Begitu pula dengan tingkat suku bunga facility dan bunga lending facility masing-masing turun 25% menjadi 4,25% dan 5,75%. Keputusan ini dipengaruhi oleh kondisi global yang mengalami perlambatan, meski ketidakpastian di pasar keuangan sedikit mereda seiring kesepakatan antara AS dan .

“Kebijakan tersebut konsisten dengan perkiraan yang terkendali dan imbal hasil keuangan domestik yang tetap menarik serta langkah preemptive lanjutan untuk momentum mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perlambatan ekonomi global,” papar Gubernur BI, Perry Warjiyo. “kebijakan ini didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat menjaga kecukupan likuiditas dan menjaga efektivitas bauran kebijakan yang akomodatif.”

Sementara itu, dari pasar global, indeks minim sentimen positif pada hari Kamis ketika investor mengambil jeda dari berita konflik AS-China, sedangkan pound sterling stabil saat proyek Brexit memasuki pola holding baru. Mata uang Paman Sam melemah 0,087 poin atau 0,09% ke level 97,404 pada pukul 14.48 WIB.

Dilansir Reuters, komentar positif dari AS dan para pemimpin China di awal minggu tentang kemajuan negosiasi gencatan senjata dalam sengketa perdagangan mereka telah menguatkan mata uang yang terpapar perdagangan. Sebelumnya, greenback sudah mulai kehabisan tenaga karena kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi AS yang kembali ke permukaan.

Di Benua Biru, pound sterling bertahan di 1,2911 terhadap dolar AS setelah parlemen Inggris mendukung kesepakatan penarikan, tetapi menolak jadwal ketat pemerintah. Pound sendiri telah melonjak 6% dalam dua minggu perdagangan yang fluktuatif sejak Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, menandatangani kesepakatan dengan Uni Eropa mengenai syarat keluarnya Inggris dari blok tersebut.

“Pound sterling saat ini tetap menjadi pusat fokus untuk pasar valas. Sepertinya para pedagang menimbang shenanigans parlemen saat ini versus Brexit,” kata kepala strategi pasar di broker CMC Markets di Sydney, Michael McCarthy. “Dengan negosiasi perdagangan yang sekarang bergerak keluar dari berita utama, tampaknya tidak banyak yang memacu dolar AS ke arah mana pun.”

Loading...