Selasa Pagi, Rupiah Melemah Jelang Rilis Neraca Perdagangan

Rupiah - www.covesia.comRupiah - www.covesia.com

masih betah bergulir di zona merah pada Selasa (15/6) pagi menjelang pengumuman neraca dalam negeri. Menurut catatan Index pukul 09.06 WIB, Garuda melemah 22,5 poin atau 0,16% ke level Rp14.225 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 13,5 poin atau 0,10% di posisi Rp14.202,5 per dolar AS pada Senin (14/6) sore.

“Rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan Selasa dan bergulir di kisaran Rp14.190 hingga Rp14.230 per dolar AS,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip dari Bisnis. “Penguatan dolar AS didorong ekspektasi pasar terhadap AS yang diproyeksikan mendorong The Fed untuk mengurangi jumlah stimulus, kembali mengetatkan kebijakan moneter mereka.”

Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan Bloomberg, sekitar 40% analis memperkirakan Federal Reserve akan mengambil langkah pertama menuju pengurangan pembelian obligasi bulanan pada pertemuan bulan Agustus mendatang. Sementara itu, sekitar 24% analisis memprediksi langkah tersebut baru akan direalisasi AS pada bulan berikutnya.

Analisis CNBC Indonesia juga meyakini bahwa rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan pada transaksi hari ini. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi mata uang Garuda sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot, dan karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Dari pasar domestik, analis sekarang menantikan tiga ekonomi yang menurut rencana akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini. Dari ketiga tersebut, salah satu yang menjadi fokus adalah neraca perdagangan bulan Mei 2021. Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg menunjukkan neraca perdagangan masih akan mengalami surplus dengan nilai median 2,37 miliar dolar AS.

“Neraca dagang Indonesia pada bulan Mei 2021 akan surplus 2,07 miliar dolar AS atau sedikit lebih rendah daripada April 2021 yang mencatatkan 2,19 miliar dolar AS,” kata Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro. “Pemulihan ekonomi dan kenaikan harga komoditas mendorong kinerja ekspor, sedangkan percepatan pemulihan ekonomi dalam negeri mendorong kinerja impor.”

Loading...