Rabu Sore, Rupiah Melemah Tipis Jelang Rilis Inflasi AS

Rupiah - rebanas.comRupiah - rebanas.com

JAKARTA – Rupiah harus menerima nasib tertahan di area merah pada Rabu (9/6) sore ketika sibuk menantikan rilis data inflasi AS serta pertemuan kebijakan European Central Bank (ECB). Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah tipis 2,5 poin atau 0,02% ke level Rp14.255 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang terpantau bergerak terhadap greenback. Yen Jepang memimpin penguatan setelah naik 0,07%, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,03% serta dolar Singapura yang terapresiasi 0,02%. Sebaliknya, won Korea Selatan harus melemah 0,19%, diikuti rupee India yang turun 0,11%, bath Thailand yang terkoreksi 0,1%, dan peso Filipina yang terdepresiasi 0,06%.

Gubernur , Perry Warjiyo, seperti dilansir dari CNN Indonesia, sempat mengatakan bahwa Federal Reserve kemungkinan mengubah arah kebijakan moneter dan mengurangi intervensi likuiditas. Selain itu, The Fed juga akan melakukan pengetatan dan menaikkan , yang mungkin bisa berpengaruh pada imbal hasil (yield) obligasi AS dan pergerakan rupiah.

Pagi tadi, Presiden HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo, seperti dikutip dari Kontan, menilai bahwa pergerakan rupiah di minggu ini masih sangat dipengaruhi ekspektasi terhadap inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan mendatang. Laporan inflasi AS akan menentukan nasib tren bearish dolar AS. Selain itu, kenaikan indeks konsumen (CPI) AS dapat dengan mudah mengalahkan perkiraan, tetapi tidak mungkin menyebabkan kejutan besar.

Dari pasar global, dolar AS bertahan pada kenaikan kecil pada hari Rabu ketika para pedagang menantikan data inflasi AS yang akan datang dan pertemuan Bank Sentral Eropa untuk mengukur pemulihan global dan pemikiran pembuat kebijakan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,012 poin atau 0,01% ke level 90,088 pada pukul 11.06 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, investor saat ini diliputi kekhawatiran apakah awal dari akhir stimulus moneter sudah sangat dekat, ketika kemungkinan kenaikan suku bunga akan mengakhiri tren penurunan greenback dalam 15 bulan terakhir. Jika inflasi naik dan mencapai angka 0,4% secara bulanan, analis memperkirakan dolar AS akan meningkat.

“Pasar perlu diyakinkan bahwa pemulihan ekonomi global tidak berada di bawah ancaman, baik dari COVID-19 yang berbahaya atau dari The Fed yang dipaksa untuk mengubah kebijakan jauh lebih awal dari yang diharapkan,” kata ahli strategi mata uang Societe Generale, Kit Juckes. “Aset berisiko perlu diyakinkan secara teratur bahwa The Fed tidak akan mengetatkan (kebijakan) lebih cepat dari yang diharapkan. Jadi, kita menunggu data CPI, lalu FOMC pada minggu depan.”

Loading...