Usai Long Weekend, Rupiah Merah Jelang Rilis Data Inflasi

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (4/5) pagi - www.jawapos.com

JAKARTA – Rupiah harus terjun ke teritori merah pada perdagangan Senin (4/5) pagi menjelang pengumuman data inflasi dalam negeri bulan April 2020. Menurut laporan Bloomberg Index, mata uang Garuda 113 poin atau 0,76% ke level Rp14.995 per pada pukul 09.18 WIB. Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat tajam 414 poin atau 2,7% di posisi Rp14.882 per sebelum libur panjang akhir pekan (30/4) lalu.

“Rupiah masih akan berpotensi mengalami penguatan. Faktor yang mendorong adalah rilis data yang diperkirakan akan cukup baik,” kata Head of Economics Research Pefindo, Fikri C. Permana, dilansir Kontan. “Meski demikian, penguatan tersebut cukup terbatas seiring pada akhir pekan kemarin sudah mengalami apresiasi yang cukup kuat.”

Siang nanti, Badan Pusat Statistik (BPS) memang dijadwalkan merilis laporan Indeks Konsumen (IHK) bulan April 2020. Menurut Fikri, inflasi pada bulan kemarin diperkirakan berada di sekitar 2,8%, yang akan mampu memberikan kepercayaan bahwa daya beli masyarakat masih cukup baik di tengah pandemi .

Sementara, berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, mayoritas ekonom memprediksi bahwa tingkat inflasi pada bulan kemarin berada di kisaran 2,2% hingga 2,9% secara year-on-year. Angka tersebut relatif turun tipis dibandingkan dengan inflasi bulan Maret 2020 yang sebesar 2,96% secara tahunan. Proyeksi ini sejalan dengan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh sampai dengan pekan keempat April 2020.

“Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April tahun ini meningkat sebesar 0,16%month-to-month, dan inflasi secara year-on-year sebesar 2,76%,” ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, dikutip dari Bisnis. “Penurunan inflasi ini disebabkan oleh terbatasnya aktivitas sosial sejalan dengan implementasi PSBB di sejumlah wilayah. Namun, persediaan makanan masih aman berkat panen pada bulan lalu.”

Analisis CNBC Indonesia menuturkan bahwa pada perdagangan hari ini, laju impresif rupiah terancam terhenti akibat memburuknya sentimen pelaku setelah Presiden AS, , kembali mengancam akan menaikkan bea pada China. Trump mengatakan bisa saja mengenakan bea masuk akibat cara penanganan virus corona yang dilakukan China sehingga menjadi pandemi global.

Loading...