Selasa Sore, Rupiah Melemah Jelang Rapat The Fed

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – Setelah bergulir dalam kisaran yang relatif sempit, akhirnya harus menutup Selasa (16/3) sore di area merah ketika cenderung bersikap hati-hati menjelang rapat kebijakan . Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda berakhir melemah 7,5 poin atau 0,05% ke level Rp14.410 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.424 per dolar AS, terkoreksi tipis 6 poin atau 0,04% dari sebelumnya di level Rp14.418 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia bergerak relatif sempit terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,37% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,11% menghampiri ringgit Malaysia.

Sebelumnya, FX Senior Dealer Bank Sinarmas, Deddy, menuturkan bahwa nilai tukar rupiah pada transaksi hari ini tidak akan banyak berubah setelah kemarin cenderung tertekan greenback bersama dengan mayoritas mata uang lainnya. Adapun ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, mengatakan bahwa rupiah pada hari ini berpotensi menguat karena ada data penjualan ritel AS yang diperkirakan menurun.

Dari global, indeks dolar AS bergerak terbatas pada hari ini, karena investor mengambil sikap hati-hati menjelang pertemuan bank sentral utama, dimulai dengan pertemuan Federal Reserve yang akan Selasa waktu setempat. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,046 poin atau 0,05% ke level 91,787 pada pukul 11.41 WIB.

Dolar AS sempat naik tipis meskipun imbal hasil pemerintah AS turun dari level tertinggi dalam lebih dari setahun menjelang pertemuan The Fed. Harapan semakin rendah bagi pembuat kebijakan moneter untuk beralih dari sikap akomodatif mereka meskipun ada perkiraan pertumbuhan ekonomi yang cepat setelah peluncuran vaksin COVID-19 dan paket bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS.

“Ini adalah pertemuan yang sangat penting dari perspektif itu,” kata ahli strategi FX di Standard Chartered Bank di Singapura, Mayank Mishra, dikutip dari Reuters. “Hal lain yang ditunggu adalah keputusan pembebasan supplemental leverage ratio (SLR). Kami tidak mengharapkan adanya dorongan eksplisit kembali pada hasil akhir, tetapi perpanjangan SLR dapat menawarkan beberapa bantuan ke pasar.”

Loading...