Rabu Sore, Rupiah Berbalik Drop Jelang Risalah Fed

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, harus berbalik ke area merah pada Rabu (20/11) sore ketika pasar menantikan rilis risalah Federal Reserve di tengah negosiasi AS-. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp14.095 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.097 per dolar AS, terdepresiasi 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.091 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,25% dialami won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS dan yen Jepang menerima dukungan pada hari Rabu karena kurangnya kejelasan pembicaraan perdagangan AS-China, membuat berhati-hati menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan terakhir Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,031 poin atau 0,03% ke level 97,887 pada pukul 12.31 WIB.

Dilansir Reuters, pergerakan mata uang relatif sempit karena investor agaknya letih dengan pemberitaan seputar tensi perdagangan. Harapan untuk kemajuan sengketa telah meningkat dalam semalam ketika Bloomberg melaporkan bahwa negosiasi akan dianggap sebagai dasar dalam menentukan pembatalan AS. Namun, berbicara pada pertemuan kabinet di Gedung Putih, Presiden AS, Donald Trump, mencatat bahwa kesepakatan apa pun harus sesuai dengan yang ia inginkan.

Di sisi lain, pasar menantikan rilis risalah The Fed yang dijadwalkan pada hari ini waktu setempat, untuk mencari petunjuk tentang alasan penurunan suku bunga bulan lalu. Dalam pertemuan kebijakan yang berakhir pada 30 Oktober lalu, pejabat Federal Reserve memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dan mengisyaratkan jeda pemotongan lebih lanjut kecuali jika prospek ekonomi berubah.

“Secara khusus, (investor mencari) petunjuk apakah putusan Oktober kemarin adalah ‘hawkish cut’, dengan penghalang yang tinggi untuk pelonggaran lebih lanjut,” ujar kepala ekonomi dan strategi untuk Mizuho Bank di Singapura, Vishnu Varathan. “Ataukah ‘jeda dovish’ dengan bias untuk pelonggaran lebih lanjut.”

Loading...