Rabu Sore, Rupiah Berbalik Melemah Jelang Putusan The Fed

Rupiah - swarasemar.comRupiah - swarasemar.com

JAKARTA – tidak mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada perdagangan Rabu (16/12) sore ketika fokus investor tengah tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang diharapkan menahan acuan. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.125 per .

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menetapkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.151 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,14% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.131 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga mampu mengungguli greenback walau dalam kisaran yang relatif sempit.

Dari , indeks dolar AS masih berkutat di dekat posisi terendah 2,5 tahun pada hari Rabu karena kemajuan menuju stimulus fiskal pemerintah AS yang besar dan langkah-langkah bantuan COVID-19 mendukung selera risiko, melemahkan permintaan untuk aset teraman. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,043 poin atau 0,05% ke level 90,430 pada pukul 14.59 WIB.

Yang juga mendukung aset berisiko, AS memperluas peluncuran vaksin dari Pfizer Inc. dan BioNTech SE, sedangkan vaksin yang dikembangkan oleh Moderna Inc. tampaknya akan disetujui minggu ini. FDA dikabarkan mengeluarkan dokumen yang bernada positif tentang vaksin Moderna jelang pertemuan para ahli untuk persetujuan penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).

“Karena semua hal positif yang telah menghantam pasar, dari vaksin virus corona hingga stimulus fiskal di AS, kami melihat pelemahan greenback secara menyeluruh,” kata manajer Tokyo State Street Bank di Tokyo, Bart Wakabayashi, seperti dikutip dari Reuters. “(Saat in) ada momentum yang bagus di pasar.”

Investor saat ini juga tengah memantau hasil dari pertemuan dua hari kebijakan Federal Reserve yang berakhir Kamis (17/12) pagi WIB. Pembuat kebijakan diharapkan untuk mempertahankan suku bunga sinyal itu mungkin akan tetap di sana selama bertahun-tahun yang akan datang, sebuah keputusan yang menurut para analis akan semakin meningkatkan sentimen berisiko.

Loading...