Senin Pagi, Rupiah Dibuka Melemah Jelang Laporan Inflasi

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (2/3) pagi - mediaindonesia.com

JAKARTA – masih terbenam di zona merah ketika mengawali Senin (2/3) menjelang rilis data dalam negeri. Menurut laporan Index, mata uang Garuda membuka dengan 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.338 per AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir terdepresiasi tajam 293 poin atau 2,09% di posisi Rp14.318 per AS pada Jumat (28/2) kemarin.

Siang ini, Badan Pusat Statistik () dijadwalkan akan mengumumkan angka Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia bulan Februari 2020, selain perkembangan nilai tukar petani, harga gabah Februari 2020, serta perkembangan transportasi dan pariwisata Januari 2020. Sebelumnya, pada Januari kemarin, IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 0,39% secara bulanan dan 2,68% secara tahunan.

“Inflasi pada Februari tahun ini akan sebesar 0,29% secara bulanan atau lebih rendah dari inflasi pada bulan sebelumnya. Bila dibandingkan dengan Februari 2019, inflasi akan sebesar 3,07% secara year-on-year,” terang Peneliti Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI, Eric Sugandi, dilansir Kontan. “Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga bahan-bahan makanan karena gangguan pasokan dan distribusi di musim hujan.”

Berbeda dengan Eric, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, menilai bahwa inflasi pada Februari 2020 akan berada di kisaran 0,35% sampai 0,45% month-to-month atau lebih tinggi dari bulan Januari 2020. Menurutnya, peningkatan inflasi ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pola tahunan kenaikan inflasi di awal tahun.

Mengenai nilai tukar rupiah, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memprediksi bahwa kurs mata uang domestik masih akan terperangkap di area merah seiring dengan penyebaran corona yang semakin meluas di luar China. Penyebaran Covid-19 hingga AS dan Eropa telah meningkatkan sentimen hindar risiko yang cukup kuat, sehingga keuangan global mengalami radang.

“Dalam kondisi ini, investor cenderung melepas investasi portofolio mereka di berbagai negara, dan tidak hanya terjadi di Indonesia,” tutur Josua, seperti dikutip dari Bisnis. “Pelemahan rupiah juga didorong adanya aksi jual dari investor asing di pasar obligasi, yang ditandai oleh naiknya imbal hasil obligasi untuk tenor 10 tahun sebesar 15 basis poin.”

Loading...