Kamis Sore, Rupiah Berakhir Melemah Meski Fed Tetap Dovish

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

JAKARTA – Rupiah kembali harus terjerembab di area merah pada Kamis (15/4) sore meskipun masih tetap mengambil sikap dovish ketika ekonomi AS terbaru menunjukkan kenaikan. Menurut laporan Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda ditutup melemah 12,5 poin atau 0,09% ke level Rp14.615 per .

“Nilai tukar rupiah masih dapat berpotensi pada hari ini dan bergerak dalam rentang Rp14.590 hingga Rp14.635 per dolar AS,” ujar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, dikutip dari Bisnis. “Pelemahan dolar AS setelah rilis indeks harga di AS tidak memicu kekhawatiran mengenai kenaikan inflasi dan pengetatan meskipun naik lebih tinggi dari perkiraan.”

Sementara itu, Tim Riset Monex Investindo Futures, seperti dilansir dari Antara, menuturkan bahwa pergerakan mata uang dipengaruhi pernyataan Gubernur , Jerome Powell, yang menegaskan bahwa sangat tidak mungkin menaikkan suku bunga sebelum tahun 2022 dan pembelian obligasi bulanan masih akan tetap stabil sampai ekonomi mencapai tujuannya. Imbal hasil AS tenor 10 tahun sempat naik ke level 1,63% setelah pernyataan Powell.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya masih bergerak turun pada hari Kamis, bertahan di dekat level terendah tiga minggu terhadap sekeranjang mata uang karena penurunan imbal hasil obligasi AS, ketika mencerna argumen Federal Reserve bahwa suku bunga dapat tetap rendah. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,01 poin atau 0,01% ke level 91,680 pada pukul 11.15 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, jaminan berulang dari pejabat The Fed bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga rendah telah membantu menstabilkan obligasi AS, terutama pada pasar jangka pendek. Sementara banyak investor tetap gugup, bank sentral dapat mengubah nadanya pada akhir tahun ini jika pembacaan inflasi berayun jauh lebih tinggi dari yang diharapkan.

“Dolar AS telah kehilangan sedikit tenaga sejalan dengan penurunan imbal hasil obligasi AS karena The Fed telah mempertahankan sikap dovish mereka,” kata kepala strategi mata uang di Nomura Securities, Yujiro Goto. “Ketika data ekonomi kuat dan The Fed tidak berubah menjadi hawkish, kita bisa melihat mata uang yang sensitif terhadap risiko menguat terhadap dan yen.”

Loading...