Dolar Konsolidasi, Rupiah Tetap Merah di Senin Sore

rupiah melemahRupiah melemah pada senin sore - pelita.online

JAKARTA – Rupiah tetap gagal melaju ke area hijau pada Senin (11/11) sore, ketika terlihat masih berkonsolidasi di tengah optimisme bahwa dan China akan menurunkan tarif. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.53 WIB, mata uang Garuda melemah 53 poin atau 0,38% ke level Rp14.067 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.040 per dolar AS, terdepresiasi 20 poin atau 0,14% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.020 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,35% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS terlihat sedang berkonsolidasi pada hari Senin, di tengah optimisme bahwa AS dan China akan menurunkan tarif impor yang selama ini sudah mengganggu global. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,0810 poin atau 0,08% ke level 98,272 pada pukul 15.02 WIB.

Dilansir dari Reuters, pergerakan indeks dolar AS relatif sempit karena para terus mewaspadai berita lebih lanjut tentang tensi perdagangan AS dan China. Pada akhir pekan lalu, pejabat dari kedua negara sempat mengatakan bahwa penurunan beberapa tarif impor telah disepakati. Meski itu sempat ditolak oleh Presiden AS, , tetapi tidak sepenuhnya sentimen kesepakatan yang akhirnya mendukung greenback.

“Dia membiarkan pintu terbuka untuk beberapa penurunan (tarif),” kata ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril. “Pasar mengeluarkan gagasan bahwa pasti ada prospek bahwa beberapa hal akan dilakukan. Semua orang mencari dalam perbaikan dalam prospek pertumbuhan global.”

Dengan pasar AS sekarang libur untuk memperingati Hari Veteran, fokus kemungkinan akan tertuju pada data ekonomi Inggris akan dirilis Senin waktu setempat dan pertemuan penetapan bank sentral Selandia Baru di akhir pekan. Ekonomi Inggris telah kehilangan momentum tahun ini, dirugikan oleh penurunan global akibat perang dagang AS-China serta meningkatnya ketidakpastian tentang keluarnya mereka dari Uni Eropa.

Loading...