Rupiah Melemah di Akhir Selasa Jelang FOMC Meeting

rupiah - kumparan.comrupiah - kumparan.com

JAKARTA – gagal memanfaatkan pelemahan yang dialami AS untuk bergerak ke zona hijau pada Selasa (29/1) sore, menjelang pertemuan Federal Reserve pada tengah pekan. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda melemah 22 poin atau 0,16% menuju level Rp14.094 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.098 per dolar AS, terdepresiasi 60 poin atau 0,43% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.038 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang variatif terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,1% dialami yen Jepang dan pelemahan terdalam sebesar 0,20% menghampiri baht Thailand.

Dari pasar , indeks dolar AS sebenarnya bergerak lebih rendah pada hari Selasa, menjelang rapat kebijakan Federal Reserve yang dilakukan tengah pekan ini waktu setempat. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,065 poin atau 0,07% menuju level 95,681 pada pukul 15.23 WIB, setelah kemarin (28/1) sudah ditutup di zona merah.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS cenderung melandai, sedangkan yen Jepang menguat karena pedagang memburu aset safe haven setelah Departemen Kehakiman AS mendakwa Huawei Technologies Co. Ltd. melakukan penipuan, yang sekaligus meningkatkan ketegangan perdagangan AS-China. Kemarin, AS mendakwa Huawei atas tuduhan penipuan dan konspirasi sehubungan dengan kesepakatan di Iran.

“Ada peluang yang jauh lebih kecil sekarang bahwa kita mendapatkan sesuatu yang positif dari negosiasi perdagangan (AS-China) ini,” terang chief operating officer di Rakuten Securities, Nick Twidale. “Ini kemungkinan akan berdampak buruk bagi aset berisiko seperti saham, dan kami memperkirakan dolar terhadap yen dan dolar Australia berada di bawah tekanan.”

Saat ini, pelaku pasar menantikan pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 29-30 Januari, dengan Gubernur , Jerome Powell, secara luas diharapkan untuk mengakui risiko yang semakin meningkat terhadap AS ketika global melemah. Investor memperkirakan mengambil sikap yang lebih berhati-hati terhadap kebijakan daripada yang mereka lakukan pada tahun 2018 kemarin.

Loading...