Senin Sore, Rupiah Melemah Jelang Rilis Data Inflasi AS

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (13/9) sore - investor.id

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki tenaga yang cukup untuk bangkit ke zona hijau pada perdagangan Senin (13/9) sore karena pijakan cenderung kuat menjelang rilis . Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup 50 poin atau 0,35% ke level Rp14.252,5 per dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia juga tidak berdaya melawan greenback. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk setelah anjlok 0,46%, diikuti peso Filipina yang terkoreksi 0,29%, ringgit Malaysia yang minus 0,18%, baht Thailand yang terdepresiasi 0,09%, yuan China yang turun 0,08%, dan dolar Singapura yang berkurang 0,04%.

“Pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap inflasi Negeri Paman Sam,” tutur analis pasar uang, Ariston Tjendra, seperti dilansir dari CNN Indonesia. “Data kemungkinan akan menunjukkan tingkat inflasi AS masih meninggi, yang akan membuka peluang tapering oleh Federal Reserve pada akhir tahun.”

Pada akhir pekan kemarin, data inflasi produsen AS bulan Agustus 2021 masih menunjukkan kenaikan 8,3% secara tahunan atau year-on-year dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,8%. Selain itu, salah satu pejabat , Loretta Mester, juga sempat mengatakan bahwa dirinya mendukung kebijakan tapering diberlakukan pada akhir tahun ini.

Dari pasar global, dolar AS memulai minggu yang penuh data besar dengan pijakan yang kuat, saat mewaspadai langkah Federal Reserve yang mulai keluar dari kebijakan super-mendukung, bahkan ketika kasus melonjak. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,008 poin atau 0,09% ke level 92,662 pada pukul 11.30 WIB.

“Beberapa dinamika mendukung dolar AS, terutama penghindaran karena bahkan negara-negara yang divaksinasi seperti Singapura dan Inggris mencatat lonjakan kasus -19,” kata ahli strategi mata uang senior di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril, dikutip dari Reuters. “Pada saat yang sama, meningkatnya infeksi menunjukkan bahwa kita mungkin masih perlu memperkenalkan kembali semacam pembatasan. Hal lain adalah bahwa The Fed terus memberi sinyal tentang tapering akan datang.”

Loading...