Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (7/10) sore - www.medanbisnisdaily.com

JAKARTA – gagal mengatrol posisinya ke area hijau pada Senin (7/10) sore, karena harus tertekan sentimen domestik laporan cadangan Indonesia terbaru yang diumumkan menyusut dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut data Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda melemah 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.163 per dolar .

Siang tadi, melaporkan bahwa cadangan devisa dalam negeri sepanjang bulan September 2019 hanya sebesar 124,3 miliar , turun dibandingkan bulan Agustus yang mencapai 126,4 miliar . Posisi cadangan devisa negara tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Penurunan cadangan devisa pada bulan kemarin terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia. Pemerintah tercatat telah membayar bunga utang sebesar Rp172,4 triliun sejak Januari-Agustus 2019, sedangkan berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia kemungkinan besar diakibatkan penyaluran kredit ke pihak ketiga maupun perbankan lain seiring dengan suku bunga BI.

Meski menyusut, Bank Indonesia menganggap cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, Bank Indonesia memprediksi cadangan devisa tetap memadai, didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.

Sementara, dari pasar global, indeks dolar AS bergerak naik secara perlahan pada hari Senin, setelah data nonfarm (NFP) AS untuk bulan September yang dirilis Jumat (4/10) waktu setempat tampak cukup kuat dan tingkat pengangguran turun mendekati level terendah 50 tahun. Mata uang Paman Sam terpantau tipis 0,053 poin atau 0,05% ke level 98,861 pada pukul 12.56 WIB.

Sebelumnya, serangkaian rilis data ekonomi AS yang mengecewakan memunculkan keraguan mengenai anggapan banyak orang bahwa ekonomi AS akan lebih tangguh ketimbang dampak yang dialami negara-negara lain akibat perang dagang dengan . Namun, kekhawatiran ini sedikit mereda setelah data NFP yang baru saja diumumkan tampak lebih kuat.

“Data nonfarm payroll AS yang tangguh telah memperlambat ekspektasi suku bunga Fed, sehingga bisa mendorong rebound kecil dolar AS terhadap rupiah,” ujar pakar strategi di DBS Bank, Singapura, Chang Wei Liang, dikutip dari Bloomberg. “ rupiah masih rentan terhadap arus keluar dan dapat berkonsolidasi sekitar level 14.000-14.300 per dolar AS.”

Loading...