Senin Sore, Rupiah Melemah Jelang Bulan Puasa

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (12/4) sore - okezone.com

JAKARTA – harus pasrah tenggelam di teritori merah pada Senin (12/4) sore menjelang bulan Ramadan, ketika data indeks AS menunjukkan lonjakan cukup tinggi daripada yang diperkirakan. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.595 per .

“Yield obligasi AS kini berada di sekitar 1,66%, naik karena data indikator AS menunjukkan kenaikan melebihi proyeksi,” tutur pengamat keuangan, Ariston Tjendra, dilansir dari Okezone. “Data indeks harga produsen AS bulan Maret 2021 yang diumumkan Jumat (9/4) malam pekan lalu dirilis naik 1,0%, melebihi proyeksi 0,5%. Kenaikan yield ini sebagai antisipasi kenaikan AS.”

Departemen AS memang melaporkan bahwa indeks harga produsen (producer price index atau PPI) untuk akhir melonjak 1,0% bulan lalu setelah naik 0,5% pada Februari 2021. Dalam 12 bulan hingga Maret, PPI melonjak 4,2%, sekaligus kenaikan year-on-year terbesar sejak September 2011 dan mengikuti kenaikan 2,8% di bulan Februari. Ekonom disurvei Reuters telah memperkirakan PPI meningkat 0,5% di bulan Maret dan melonjak 3,8% tahun ke tahun

Seperti diwartakan CNBC Indonesia, pemulihan ekonomi AS tersebut menjadikan pelaku pasar berani mengambil risiko, yang sebenarnya bisa menjadi keuntungan bagi rupiah. Hal tersebut terindikasi dari penurunan indeks volatilitas (VIX) ke level terendah sebelum virus corona menyerang dunia. VIX respon sebagai indikator ketakutan (fear index), ketika posisinya menanjak, mencerminkan ketakutan para investor dan cenderung menghindari aset-aset berisiko.

Sementara itu, saham goyah pada hari Senin karena investor menunggu untuk melihat apakah pendapatan AS dapat membenarkan penilaian setinggi langit, sedangkan pasar obligasi akan diuji data untuk inflasi AS dan penjualan ritel minggu ini. Indeks MSCI dari saham -Pasifik di luar Jepang turun 0,6% dalam perdagangan sepi. Saham Nikkei Tokyo turun tipis 0,5%, sedangkan saham Korea Selatan hampir datar.

“Pertumbuhan ekonomi yang cepat, didukung pembukaan kembali dan kebijakan fiskal yang akomodatif, dapat menguntungkan sektor-sektor pasar saham yang lebih sensitif terhadap kesehatan ekonomi secara tidak proporsional,” kata ekonom pasar di Capital Economics Thomas Mathews, dikutip Reuters. “Komposisi pertumbuhan itu kemungkinan besar akan lebih condong ke sektor-sektor tersebut daripada selama ekspansi ekonomi pada umumnya.”

Loading...