AS-China Turunkan Tarif, Rupiah Drop di Akhir Pekan

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

JAKARTA – gagal melaju ke area hijau pada perdagangan Jumat (8/11) sore ketika bergerak di tengah laporan terbaru yang menyebutkan bahwa AS dan China sepakat menurunkan tarif satu sama lain. Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.57 WIB, Garuda ditutup melemah 16 poin atau 0,12% ke level Rp14.014 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.020 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,14% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.040 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,35% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,4% menghampiri rupee India.

Dari pasar , indeks dolar AS mencoba mempertahankan kisaran kenaikannya pada hari Jumat, saat AS dan China sepakat untuk menurunkan tarif satu sama lain, bahkan ketika pakta perdagangan awal masih jauh dari kesepakatan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,037 poin atau 0,04% ke level 98,180 pada pukul 15.35 WIB.

Dilansir Reuters, AS dan China telah sepakat untuk menurunkan tarif impor satu sama lain dalam kesepakatan perdagangan ‘fase satu’, kata para pejabat dari kedua belah pihak pada hari Kamis (7/11) kemarin. Meski begitu, masih ada beberapa skeptisisme tentang kesepakatan perdagangan karena para pejabat di dalam dan di luar Gedung Putih mempertentangkan gagasan untuk mengakhiri tarif.

Memperkeruh air, juru bicara Gedung Putih, Stephanie Grisham, mengatakan kepada Fox News Channel dalam sebuah wawancara bahwa AS ‘sangat, sangat optimis’ untuk segera mencapai kesepakatan perdagangan dengan China. Secara keseluruhan, sentimen kemungkinan akan tetap mendukung dolar AS, ekuitas, dan aset berisiko lainnya karena penurunan tensi menghilangkan risiko besar terhadap prospek ekonomi global.

“Nada keseluruhan adalah risk-on, yang untuk dolar AS dan negatif untuk yen,” manajer umum solusi bisnis pendapatan tetap di SBI Securities Co di Tokyo, kata Tsutomu Soma. “Kita bisa melihat ini di pasar lain, itulah sebabnya sangat kuat. Namun, kami masih perlu mencari tahu kapan AS dan China akan menandatangani kesepakatan ini, tetapi sejauh ini suasana mendukung pasar.”

Loading...