Akhir Senin, Rupiah Melemah Saat Aktivitas Pasar Cenderung Sepi

rupiah dan dolarRupiah melemah pada perdagangan Senin (23/9) sore - vifxpro.com

JAKARTA – Rupiah harus puas tertahan di teritori merah pada perdagangan Senin (23/9) sore, ketika aktivitas cenderung minim karena hari libur umum di Jepang di tengah perkembangan pembicaraan dan . Menurut catatan Index pada pukul 14.47 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.085 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.077 per dolar AS, menguat tipis 8 poin atau 0,05% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.085 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,49% dialami won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS relatif bergerak cukup stabil pada hari Senin, ketika selera aset berisiko diimbangi kabar progres tensi dagang AS dan China, setelah pembicaraan di Washington antara wakil kedua negara digambarkan sebagai ‘produktif’. Mata uang Paman Sam terpantau hanya melemah tipis 0,027 poin atau 0,03% ke level 98,486 pada pukul 12.32 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, terobosan perdagangan AS-China tampak terancam setelah Presiden AS, , pada Jumat (20/9), mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak mencari kesepakatan parsial. Namun kedua belah pihak kemudian mengeluarkan pernyataan positif. Perwakilan Dagang AS menggambarkan perundingan kedua belah pihak berlangsung produktif, meski Kementerian Perdagangan China menyebutnya konstruktif.

Greenback sempat menguat terhadap aset safe haven yen Jepang, tetapi beringsut lebih rendah terhadap mata uang yang terpapar tensi perdagangan, seperti dolar Australia dan Selandia Baru, yang menguat karena pasar cenderung berhati-hati. Namun, pergerakan mata uang relatif minim, karena hari libur umum di Jepang dan antisipasi bahwa bank sentral di Australia dan Selandia Baru akan terdengar dovish dalam pidato yang dijadwalkan minggu ini.

“Saya pikir, masih ada banyak kegelisahan,” kata kepala ekonom di AMP Capital di Sydney, Shane Oliver, mengutip ketegangan Timur Tengah dan perselisihan perdagangan AS-China sebagai pendorong utama. “Hal-hal ini memiliki kebiasaan bereskalasi dan meningkat lagi. Namun, untuk saat itu, itu terpantau sedikit seimbang.”

Loading...