Selasa Sore, Rupiah Berbalik Melemah Saat Aktivitas Dagang Minim

Rupiah - sumutinvest.comRupiah - sumutinvest.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang sempit, harus berbalik melemah pada Selasa (10/9) sore di tengah meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko seiring dengan meredanya kekhawatiran terkait tensi perdagangan. Menurut Index pada pukul 15.57 WIB, Garuda melemah 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.053 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.031 per dolar AS, menguat 61 poin atau 0,43% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.092 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif terhadap , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,19% dialami ringgit Malaysia dan pelemahan terdalam sebesar 0,18% menghampiri peso Filipina.

Seperti diberitakan Bloomberg, mata uang Asia relatif bergerak stabil pada hari Selasa, seiring dengan membaiknya minat terhadap aset berisiko di tengah ketegangan perdagangan yang semakin mereda. Kepada Fox Business, Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, menyampaikan bahwa pemerintahnya dan China sudah membuat ‘banyak kemajuan’ dalam hal negosiasi perdagangan.

Dari pasar , indeks dolar AS juga bergerak seiring dengan kurs Asia ketika selera investor terhadap aset berisiko mendapatkan dukungan dari laporan rencana stimulus Jerman, berkurangnya peluang no-deal , dan harapan akan terobosan dalam perang dagang AS-China. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,063 poin atau 0,06% ke level 98,344 pada pukul 13.34 WIB.

“Perdagangan relatif tenang dengan sedikit pendorong di luar komentar Mnuchin dan prospek stimulus di Jerman. Namun, tidak adanya berita buruk segera bagi pasar telah membantu sentimen,” ujar direktur ekonomi di National Australia Bank, Tapas Strickland, dikutip Reuters. “Ini sebagian besar merupakan kasus ‘Hakuna Matata’ untuk pasar.”

Saat ini, investor tetap bersikap wait and see jelang pertemuan Bank Sentral Eropa pada Kamis (12/9) lusa, yang diperkirakan akan melonggarkan kebijakan moneter. Selain itu, pasar juga menantikan data inflasi China yang diprediksi akan menunjukkan penurunan pada aktivitas pabrik secara tahun-ke-tahun, sehingga menambah argumen untuk lebih banyak stimulus dari bank setempat.

Loading...