Rupiah Melemah 0,6% dalam 1 Minggu Terakhir

kursMerujuk pada pantauan JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate), pergerakan selama 1 minggu terakhir tercatat sebesar 0,6% hingga berakhir pada posisi Rp 12.941. Pada awal pembukaan minggu ini, Rupiah akibat sentiment negative para pelaku yang khawatir akan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rupiah sempat berbalik arah kemudian , bergerak menguat sebagai dampak dari dirilisnya data ekonomi Amerika Serikat yang melemahkan posisi . Sebagai pembanding, posisi penutupan Rupiah minggu ini berdasarkan Indeks Dolar adalah berada pada level Rp 12.922 perDolarnya, tercatat pada hari Jumat lalu (24/4).

Para Investor khawatir bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jadi terus melambat pada tahun 2015, meski laju ekonomi Indonesia sempat melambat sebesar 5,02% pada tahun lalu. Penentapan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,7% oleh pemerintah dinilai terlalu ambisius oleh sebagian besar analis keuangan.

Berlawanan dengan bank sentral Negara lainnya, justru mempertahankan tingkat suku bunga (BI Rate) yang masih tergolong tinggi, yaitu 7,5%. Hal ini terpaksa dilakukan demi menolong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun saat ini tindakan ini dianggap sebagai langkah yang paling tepat, namun para pelaku pasar khawatir bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan meningkat tahun ini.

Di sisi lain, Rupiah juga terdepresiasi di pertengahan awal minggu akibat faktor eksternal dari . Para investor khawatir jika sampai keluar dari zona euro. Menurut keuangan zona euro, perlu untuk mereformasi keadaan ekonominya jika ingin mendapatkan sisa dana bailout beku senilai € 7,2 M. Setelah dilakukan pertemuan pada hari Jumat (24/04), Menteri Keuangan Yunani, Yanis Varoufakis, menekankan bahwa Yunani bersedia berkompromi untuk mencapai kesepakatan dengan kreditur. Namun Ketua Eurogroup, Jeroen Dijsselbloem, menyatakan bahwa masih ada masalah besar yang harus diselesaikan di Yunani.

Loading...