Rupiah Masih Stabil, hanya Tertahan oleh Sentimen Negatif dari China dan AS

20140624_rupiah_afpRupiah kembali tergiring pada teritori negatif di penghujung pekan setelah merilis data inflasi yang melampaui prediksi . Rupiah harus rela kembali ke level Rp 13.540 per AS setelah anjlok 0,90% pada hari Jumat lalu (16/10).

Prestasi Rupiah dalam beberapa hari sebelumnya harus terjegal akibat data ekspor yang jeblok. Posisi Rupiah makin tak diuntungkan setelah AS mengumumkan angka inflasi bulan September yang dinyatakan tumbuh menjadi 0,2% dari sebelumnya 0,1%. Hal ini kembali memperbesar peluang The Fed untuk segera menaikkan suku bunganya tahun ini.

Sri Wahyudi, Research and Analyst Fortis Futures, mengatakan bahwa sentimen domestik masih bisa menyokong Rupiah. Diantaranya mengenai data yang meningkat dan BI rate yang masih bertahan di level 7,5%.

Hal senada juga disampaikan oleh David Sumual, Ekonom Bank Central Asia (BCA). Menurut David, Rupiah hanya sedang terpengaruh oleh sentimen negatif eksternal yang berasal dari China. “Ini kondisinya masih stabil, cenderung karena masih diombang ambing kondisi eksternal (yaitu) ekspor China (yang) dan mereka (China) akan menurunkan cadangannya di bank sentral‎. Jadi mengindikasikan bahwa China masih lesu,” paparnya pada awak media di Jakarta, kemarin (17/10)

David meyakini bahwa Rupiah akan tetap aman berada di level 13.000-an karena paket kebijakan pemerintah tampaknya sudah berhasil membangun kepercayaan investor. Ia memprediksi pergerakan Rupiah sepekan ke depan akan berada pada kisaran Rp 13.550/USD hingga Rp 13.650/USD.

Loading...