Rupiah Masih Melemah di Tengah Negosiasi Dagang AS & China

Rupiah - kabar.newsRupiah - kabar.news

Jakarta dibuka melemah sebesar 7 poin atau 0,05 persen ke level Rp 14.078 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (22/2). Kemarin, Kamis (21/2), Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 27 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp 14.071 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,2 persen menjadi 96,611 lantaran para pelaku tengah mengkonsolidasi posisi dan mencari insentif baru di tengah negosiasi dagang antara AS dengan China dan juga pembicaraan terkait Brexit.

Sebelumnya dolar AS sempat melemah akibat ekonomi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan, yang menegaskan ekspektasi bahwa akan mempertahankan tahun ini stabil.

“Kami memiliki data AS yang lemah sebelumnya, yang mendorong dolar AS lebih rendah, tetapi sekarang langkah itu berakhir. Saat ini kami agak terjebak dalam rentang yang membosankan dan ketat. Kami agak berharap beberapa peristiwa dapat melepaskan banyak hal, tetapi itu tidak benar-benar terjadi dan kami sedang mencari penggerak berikutnya,” ujar Wakil Presiden Transaksi dan Perdagangan Tempus Inc, John Doyle, di Washington, seperti dilansir Reuters melalui Antara. Menurut Doyle, penggerak-penggerak itu mungkin sangat berkaitan dengan perkembangan pembahasan perdagangan AS dan China serta negosiasi Brexit.

Sementara itu, data pesanan baru untuk barang-barang buatan AS rupanya turun pada Desember 2018, di tengah penurunan permintaan untuk mesin dan logam primer, menunjuk pada belanja bisnis yang lambat pada peralatan, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Data pada Kamis (21/2) juga menunjukkan jika indeks aktivitas manufaktur Fed Philadelphia menurun jadi -4,1 bulan dari 17,0 pada Januari 2019. Angka tersebut merupakan level negatif pertama sejak Mei 2016.

Setelah rilis notulensi rapat FOMC kemarin, rupiah melemah di pasar spot. Pasalnya, dalam notulensi tersebut mengisyaratkan jika petinggi The Fed yakin jika ekonomi AS diprediksi bakal tumbuh. Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi menuturkan jika hal itu mengakibatkan ekspektasi pasar terhadap tingkat suku bunga kembali naik. “Sebenarnya The Federal Reserve masih hati-hati, tetapi pelaku pasar mulai melihat sikap optimistis terhadap perekonomian AS,” jelas Dini, seperti dilansir Kontan.

Loading...