Rupiah Masih Kritis melawan Dolar Amerika

imagesRupiah diketahui mendarat di titik terlemah bila dibandingkan selama 16 tahun terakhir ini. Hal ini diduga karena adanya kenaikan volatilitas di keuangan di seluruh dunia akibat penarikan uang secara besar-besaran dari aset emerging market global. Investor asing telah menjual aset senilai mereka 12,24Trilyun Rupiah ( setara 961 Juta USD) dari lokal negara dan saham senilai 336 Juta USD pada bulan ini yang diduga sebagai usaha untuk mempersiapkan diri pada kenaikan Amerika Serikat pada 2015.

0,3% sehingga berada di Rp 12.723/USD yang tercatat pada pukul 09.30 WIB di Jakarta, setelah sempat tenggelam hingga Rp 12.940/USD kemarin (16/12) sebelum akhirnya melakukan intervensi dan berhasil membendung kerugian. “Sebagian besar , termasuk Rupiah, sangat gelisah menyikapi pertemuan FOMC,” kata Leo Rinaldy, Pakar Ekonom PT Mandiri Sekuritas yang berbasis di Jakarta. “ melakukan intervensi untuk menstabilkan Rupiah dengan cara membeli saham obligasi milik Pemerintah di pasar sekunder, “ Ujar Perry Warjiyo selaku Deputi Gubernur .

Sementara menurut data , di pasar luar negeri, dalam jangka 1 bulan ke depan nilai non-deliverable naik sebesar 0,3% menjadi Rp 12.943/USD. Bank Indonesia memutuskan untuk memperbaiki keadaan dengan melunasi kontrak di titik Rp 12.900/USD kemarin (16/11), merupakan yang terlemah sejak diperkenalkan pada Mei 2013. Rupiah Indonesia diketahui masih dalam kondisi kritisnya karena merosot dan hampir menyentuh Rp 13.000-an/USD kemarin (17/12). Mengingatkan kembali pada hal yang sama yang terjadi pada Rupiah di Agustus 1998.

Loading...