Drop Sepanjang Transaksi, Rupiah Bangkit & Ditutup Menguat 0,10%

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (27/4) sore - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Dibuka turun dan cenderung terjebak di zona merah sepanjang transaksi, rupiah ternyata mampu mengakhiri perdagangan Senin (27/4) ini di area hijau, walaupun minim sentimen pendukung. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 15 poin atau 0,10% ke level Rp15.385 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah hari ini di posisi Rp15.591 per dolar AS, terdepresiasi 38 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.555 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang variatif terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,52% dialami rupiah dan kenaikan tertinggi sebesar 0,19% menghampiri dolar Taiwan.

Dari global, yen Jepang bergerak menguat pada hari Senin, setelah Bank of Japan (BOJ) menghapus batasan pembelian obligasi pemerintah dan meningkatkan pembelian utang perusahaan untuk membantu perusahaan yang terkena krisis coronavirus. Mata uang Negeri Sakura diperdagangkan di level 107,36 terhadap dollar AS di Asia.

Dilansir dari Reuters, keputusan BOJ secara luas sejalan dengan ekspektasi ekonom. Sehingga, para lantas mengalihkan fokus mereka ke pertemuan Federal Reserve yang berakhir Rabu (29/4) waktu setempat dan pertemuan Eropa (ECB) pada Kamis (30/4) waktu Eropa, karena bank- utama sekali lagi mengambil tajuk utama ketika ekonomi global bertempur melawan depresi berat.

The Fed sebelumnya telah mengumumkan langkah-langkah dan diperkirakan akan tetap ditahan minggu ini, yang tidak akan mengganggu greenback, demikian prediksi sejumlah analis. Sementara, taruhannya lebih tinggi untuk euro, karena ECB kemungkinan akan memperpanjang pembelian utangnya, dan beberapa investor khawatir keputusan ini dapat memperluas keretakan di antara Uni Eropa.

“Bakal sulit bagi pasar untuk mengunci BOJ, karena sudah mencapai batas apa yang dapat dilakukannya,” kata manajer umum departemen penelitian di Gaitame.com Research Institute di Tokyo, Takuya Kanda. “Setiap ekonomi menderita dan semua bank sentral besar telah banyak melonggarkan kebijakan, sehingga sulit untuk membedakan dari satu mata uang ke mata uang berikutnya.”

Loading...