Senin Sore, Rupiah Makin Perkasa Saat Dolar Tertahan

Rupiah menguatRupiah menguat pada perdagangan Senin (9/9) sore - kompas.com

JAKARTA – mampu bergerak stabil di zona hijau hingga Senin (9/9) sore ketika ruang indeks cenderung terbatas di tengah meningkatnya selera investor terhadap aset berisiko. Menurut catatan Index pada pukul 15.57 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat 66 poin atau 0,47% ke level Rp14.035 per .

Sementara itu, siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp14.092 per , menguat 48 poin atau 0,34% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.140 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia bergerak naik terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,44% dialami won Korea Selatan.

Mata uang domestik mampu menguat di hari keempat beruntun karena selera risiko meningkat seiring prospek pembicaraan perdagangan AS-. Rupiah sudah naik 0,8% sepanjang bulan ini, sekaligus menjadi kinerja terbaik kedua di Asia setelah won. “Stabilitas rupiah sangat luar biasa akhir-akhir ini, bahkan di tengah musim pembayaran dividen,” ujar analis valas dan Citigroup, Gaurav Garg.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya juga relatif bergerak lebih tinggi pada hari Senin, ketika laju euro melemah menjelang pertemuan European Central Bank (ECB) pada akhir pekan ini, yang diprediksi akan memberikan stimulus baru untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,015 poin atau 0,02% ke level 98,409 pada pukul 15.08 WIB.

Diberitakan Reuters, ekspektasi tinggi untuk pelonggaran kebijakan oleh ECB datang ketika bank sentral global lainnya telah bergerak untuk melonggarkan keran moneter mereka, termasuk People’s Bank of China. Namun, penguatan yang dialami dolar AS terbatas karena pedagang masih mempertimbangkan prospek penurunan suku bunga oleh .

“Kebijakan moneter China menunjukkan pandangan bahwa jika kita tidak melihat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China, maka pelonggaran lebih lanjut akan diperlukan, termasuk toleransi terhadap yuan yang lebih lemah,” kata kepala strategi valuta asing di National Australia Bank di Sydney, Ray Attrill. “Pertemuan ECB adalah fokus utama minggu ini, dan pasar tampaknya lebih nyaman dengan pemotongan suku bunga Federal Reserve.”

Loading...