Rupiah Loyo, PHK Buruh dinilai masih Wajar

PHK BuruhPergerakan dalam sepekan terakhir makin jauh dari keperkasaan. Mengacu dari Indeks , Rupiah mulai dibuka pada level Rp 14.238 per Dolar AS di sesi Senin pagi (7/9). Padahal, Rupiah sebelumnya masih bertengger di level Rp 14.178 per Dolar AS. Keesokan harinya (8/9), Rupiah lagi sebesar 0,2% hingga ditutup pada level Rp 14.266/USD. Rupiah berhasil rebound pada perdagangan di hari rabu (9/9), hingga ditutup pada level Rp 14.244 perDolarnya. Paska naik di hari Rabu, Rupiah malah ambruk setelahnya. Rupiah melemah 0,39% hingga tembus ke titik Rp 14.333 per Dolar AS pada perdagangan hari Kamis (10/9). Terakhir, Rupiah dikatakan naik tipis pada perdagangan hari Jumat (11/9). Rupiah merambat naik 0,08% hingga tertahan di level Rp 14.322 perDolar AS.

Kian memprihatinkannya kondisi Rupiah memunculkan kekhawatiran di sejumlah kalangan, terutama yang berkaitan dengan ketenaga kerjaan. Mengomentarinya, Hanif Dhakiri selaku Menteri Ketenagakerjaan menyatakan bahwa arus pelemahan Rupiah ini tidak serta-merta diikuti dengan aksi PHK (Pemutusan Hubungan kerja). “Pantauan terakhir kami, buruh yang terkena PHK belum berubah atau bertambah banyak, masih seperti akhir Agustus lalu,” ucapnya di sela sebuah acara diskusi yang digelar di Yogyakarta, kemarin siang (12/9).

Data yang dihimpun oleh Kementerian Ketenagakerjaan pada bulan Agustus lalu menyebutkan bahwa jumlah pekerja yang terkena PHK setelah Rupiah menembus level 14.000 mencapai 26.000 orang di seluruh Indonesia. “Sekarang masih 26.506 orang juga,” rinci Hanif. PHK itu dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, diantaranya untuk menekan beban produksi akibat bahan baku yang makin melonjak. Selain itu, buruh yang di PHK kebanyakan merupakan buruh kontrak yang tidak diperpanjang kontrak kerjanya. “Kalau yang gulung tikar tak banyak, hanya 1-2 saja,” tandasnya.

Loading...