Rupiah Loyo Jelang Putusan FOMC Meeting

Rupiah - validnews.coRupiah - validnews.co

JAKARTA – Rupiah gagal memanfaatkan pelemahan yang dialami dolar AS untuk bergerak ke zona hijau pada Rabu (30/1) sore, ketika fokus pasar sedang tertuju pada hasil rapat kebijakan . Menurut Bloomberg Index pada pukul 15.55 WIB, mata uang Garuda melemah 37 poin atau 0,26% ke level Rp14.131 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.112 per dolar AS, terdepresiasi 14 poin atau 0,1% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.098 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang perkasa melawan , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,28% dialami yuan China.

Dari pasar global, indeks dolar AS sebenarnya cenderung bergerak lebih rendah pada hari Rabu, ketika pasar menantikan hasil keputusan pertemuan Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,020 poin atau 0,02% menuju level 95,801 pada pukul 14.33 WIB, setelah kemarin sudah berakhir drop 0,048 poin atau 0,05%.

Seperti diberitakan Reuters, pada hari Rabu ini, akan mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari, yang diperkirakan akan membiarkan tidak berubah, setelah mengatrol sebanyak empat kali tahun lalu. Pasar sedang menunggu dengan saksama prospek kebijakan setelah komentar baru-baru ini dari pejabat mengisyaratkan laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat, di tengah meningkatnya ketidakpastian atas ekonomi AS dan global.

Pedagang menilai hanya ada sedikit peluang kenaikan satu tingkat pada tahun 2019 secara keseluruhan, meskipun sebagian besar ekonom yang disurvei oleh Reuters pekan lalu masih mengharapkan dua kenaikan. “The Fed secara luas diperkirakan akan menepuk kebijakan. Tetapi, dolar AS bisa menghadapi tekanan jika bank sentral memilih untuk menyoroti efek negatif dari penutupan pemerintah AS,” kata kepala strategi valas di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto.

Pasar juga masih fokus pada pembicaraan perdagangan AS-China di Washington pada hari Rabu dan Kamis (31/1), sementara AS akan dirilis pada hari Jumat (1/2). Sementara Cina telah menawarkan untuk membeli lebih banyak produk AS, seorang sumber mengatakan kedua belah pihak masih berjauhan, dan Washington telah mengancam untuk menaikkan jika tidak ada kemajuan sebelum tenggat waktu bulan Maret.

Loading...