Rupiah Lanjutkan Penguatan di Tengah Santernya Isu Resesi AS

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 55 poin atau 0,38 persen ke posisi Rp 14.542,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (13/12). Kemarin, Rabu (12/12), Garuda berakhir terapresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp 14.598 per .

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS jatuh karena pelaku bertaruh pada kelangsungan hidup Perdana Menteri Inggris Theresa May dari mosi tidak percaya dalam Partai Konservatif sendiri.

Seperti dilaporkan Xinhua, May berhasil mengalahkan upaya untuk menjatuhkannya pada Rabu saat 200 anggota parlemen Konservatif memiliki ia yang tersisa sebagai pemimpin partai, dibandingkan 117 anggota parlemen yang tak memberi kepercayaan. Alhasil pound sterling berhasil menguat 1 persen usai May menang dalam pemungutan suara.

Kemenangan tersebut seakan memastikan May akan terus memperoleh dukungan dalam kesepakatan yang belum ditentukan yang sebelumnya disepakati oleh Brussels, yang dianggap oleh lawan sebagai kompromi Inggris pada perdagangan dan hak-hak lainnya. Akan tetapi para analis berpendapat bahwa pasar masih ragu apakah May nantinya dapat mencapai kesepakatan antara Inggris-Uni Eropa melalui Parlemen Inggris atau tidak.

Di sisi lain, rupiah berhasil menguat karena ikut terkerek oleh mata uang Asia lainnya. “Seperti peso Filipina juga menguat dan akhirnya rupiah terbawa,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, seperti dilansir Kontan. Dari beberapa mata uang Asia, hanya rupee yang kemarin melemah terhadap USD lantaran faktor pergantian gubernur bank sentral dan faktor domestik lain.

Sementara itu, Analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto mengungkapkan, perekonomian Amerika Serikat yang diprediksi bakal mengalami resesi juga ikut menopang gerak rupiah. Dolar AS pun makin melemah usai petinggi Huawei yang ditangkap di Kanada akhirnya dibebaskan dengan jaminan. Padahal pihak AS berharap agar Meng Wanzhou bisa diekstradisi ke Amerika Serikat.

Loading...