Penguatan Bersifat Temporer, Rupiah Lagi-Lagi Tergelincir ke Zona Merah

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

Jakarta – Rupiah dibuka melemah 1,3 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp14.240,3 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (23/8). Kemarin, Kamis (22/8), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.239 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun 0,2 persen menjadi 98,148 lantaran para pelaku menanti kemungkinan pengumuman atau pernyataan di acara Jackson Hole, Wyoming pekan ini. mengharapkan keputusan bisa mengatasi prospek ekonomi global yang memburuk.

Pelaku pasar berpendapat bahwa The Fed bisa memberi stimulus atau kembali melakukan pelonggaran moneter. Tetapi, bila hal itu tak dilakukan justru menjadi sebuah skenario yang dianggap dapat berdampak negatif untuk dolar AS. Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan pada Jumat waktu setempat.

Sejumlah ekonom mengungkapkan bahwa Powell mungkin mengklarifikasi risalah The Fed yang dirilis pada Rabu dan menyampaikan pidato bernada dovish yang dapat meredam kekhawatiran pasar terkait kemungkinan resesi. Namun Powell juga dapat mendorong kembali ekspektasi penurunan Amerika Serikat yang lebih agresif, terutama usia dua pejabat The Fed menuturkan pendapat mereka terkait tidak perlunya pelonggaran untuk sementara ini.

“Ada risiko bahwa Powell, yang komentarnya dibumbui dengan optimisme setelah pertemuan FOMC terakhir, dapat mengecilkan peluang penurunan suku bunga meskipun pasar sepenuhnya menetapkan bulan depan,” ujar Direktur Pelaksana Strategi Manajemen Aset BK Kathy Lien, seperti dilansir Reuters melalui Okezone.

Kurs rupiah sendiri kemarin sempat menguat tipis karena didukung langkah pemangkasan suku bunga BI sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen pada Agustus. Akan tetapi, Presiden Commissioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan jika penguatan rupiah bersifat temporer. “Ini belum mencerminkan keseluruhan efek penguatan,” kata Sutopo, seperti dilansir Kontan.

Terlebih karena langkah pemangkasan suku bunga acuan BI telah diprediksi sebelumnya. Hal ini mengingat imbas tensi perdagangan dunia dan kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Loading...