Kamis Sore, Rupiah Hijau Jelang Negosiasi Tingkat Tinggi AS-China

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

JAKARTA – ternyata mampu bangkit ke teritori hijau pada perdagangan Kamis (10/10) sore ketika investor tengah menantikan perundingan tingkat tinggi antara tim negosiasi asal AS dan China. Menurut catatan Index pada pukul 15.32 WIB, Garuda menguat 23 poin atau 0,17% ke level Rp14.150 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah di posisi Rp14.157 per dolar AS, menguat 25 poin atau 0,17% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.182 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang unjuk gigi di hadapan , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,28% menghampiri yuan offshore China.

Dari , indeks dolar AS memang cenderung bergerak lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Kamis, ketika perundingan tingkat deputi antara pejabat AS dan China dikabarkan gagal mencapai kemajuan sehingga meresahkan investor. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,335 poin atau 0,34% ke level 98,783 pada pukul 15.03 WIB.

Diberitakan Reuters, aset safe haven seperti yen Jepang melonjak setelah sebuah laporan yang dirilis di South China Morning Post mengatakan bahwa pembicaraan antara AS dan China di Washington baru-baru ini mengalami kebuntuan. Menyoroti dengan cepat pergeseran sentimen perdagangan, yuan China yang paling sensitif terhadap perdagangan, melambung ke level tertinggi dua minggu dari level terendah sebulan lalu.

“Ada banyak berita utama yang beredar, beberapa negatif, dan beberapa positif,” kata kepala aliran global FX di Nomura di Singapura, Stuart Oakley. “Perbaikan kurs yuan (oleh Bank Sentral China) akan menjadi kunci dalam 4-5 sesi berikutnya. Langkah menjauh dari level itu akan memberi kita sinyal yang jelas tentang bagaimana negosiasi perdagangan telah berjalan.”

Kepala ekonomi dan di Mizuho Bank, Singapura, Vishnu Varathan, menambahkan bahwa pakta mata uang mungkin membutuhkan nilai tukar yuan yang lebih kuat. Jika pergerakan yuan terhadap greenback mencerminkan hal ini hingga batas tertentu, maka wajar jika kurs di Asia juga naik. “Penguatan mata uang Asia tampaknya merupakan reaksi awal kelegaan bahwa Wakil Perdana Menteri China, Liu He, tidak pulang lebih awal,” tuturnya.

Loading...