Selasa Sore, Rupiah Hijau Jelang Rapat Federal Reserve

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

JAKARTA – Rupiah mampu menjaga posisi di teritori hijau pada perdagangan Selasa (15/9) sore menjelang pertemuan kebijakan yang diproyeksikan akan mempertahankan kebijakan dovish mereka. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 35 poin atau 0,24% ke level Ro14.845 per dolar AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.870 per dolar AS, menguat tajam 104 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp14.794 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang kompak mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,34% dialami dolar Taiwan.

masih diliputi sentimen dari aksi akuisisi besar perusahaan AS dan kelanjutan pengujian vaksin virus oleh AstraZeneca, serta penguatan indeks saham AS semalam,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir Antara. “Ekspektasi pasar terhadap hasil rapat The Fed yang mungkin dovish juga memberikan sentimen untuk aset berisiko.”

Sentimen tersebut membuat nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama harus merosot. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,195 poin atau 0,21% ke level 92,857 pada pukul 12.27 WIB, sedangkan yuan mampu melonjak ke level tertinggi dalam 16 bulan karena serangkaian data China menunjukkan pemulihan ekonomi yang stabil di negara tersebut.

Dikutip dari Reuters, produksi industri China mengalami percepatan paling tinggi dalam delapan bulan di bulan Agustus 2020, sementara ritel tumbuh untuk pertama kalinya pada tahun ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi semakin cepat karena mulai meningkat secara lebih luas dari krisis virus corona.

“Kami memiliki bukti ekspor yang kuat dari China sementara turis China, yang menghabiskan 260 miliar dolar AS di luar negeri pada tahun-tahun normal, tidak pergi ke luar negeri tahun ini, mengurangi penjualan yuan,” kata ahli strategi senior di Nomura Securities, Ei Kaku. “Otoritas China belum mencoba untuk menahan kenaikan yuan selama beberapa minggu terakhir, membuat orang mengharapkan apresiasi lebih lanjut.”

Saat ini, fokus pasar tertuju pada rapat kebijakan The Fed, yang akan menjadi pertemuan terakhir sebelum pemilihan Presiden AS November mendatang. Menurut analis, suku bunga akan tetap rendah untuk jangka waktu yang lama karena proyeksi dari pembuat kebijakan bahwa inflasi akan tetap di bawah 2% dalam perkiraan ekonomi mereka, yang akan diperpanjang hingga 2023.

Loading...