NFP AS Lampaui Ekspektasi, Rupiah Drop di Awal Pekan

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (10/2) pagi - lifepal.co.id

JAKARTA – tetap tertahan di area merah pada perdagangan Senin (10/2) pagi ketika laporan nonfarm AS terbaru ternyata lebih kuat dari perkiraan. Menurut paparan Index, Garuda mengawali dengan melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.690 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 42 poin atau 0,29% di posisi Rp13.675 per AS pada Jumat (7/2) kemarin.

Dilansir Reuters, AS menambahkan 225.000 pekerjaan sepanjang Januari 2020, dengan lapangan kerja di lokasi konstruksi meningkat paling banyak dalam satu tahun di tengah suhu yang lebih rendah dari normal, demikian data dari Departemen Tenaga Kerja AS. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang memperkirakan akan ada 160.000 pekerjaan tambahan di bulan lalu.

Tingkat pengangguran memang lebih tinggi menjadi 3,6%, tetapi untuk alasan yang tepat karena tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat 0,2 poin persentase menjadi 63,4%, sesuai dengan level tertinggi sejak Juni 2013. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan pertumbuhan penggajian 158.000 dan tingkat pengangguran tetap di 3,5%, terendah dalam lebih dari 50 tahun.

“Jumlah pekerjaan lebih baik dari yang diharapkan. Ekonomi yang jauh lebih kuat menunjukkan tingkat bunga yang lebih tinggi,” ujar Rick Meckler dari Cherry Lane Investments, New Vernon, New Jersey. “Pasar kembali bereaksi terhadap berita coronavirus terbaru. Ini semacam rally dengan gagasan itu akan dapat ditahan untuk pasar AS. Namun, ada banyak berita tentang hal itu, yang memiliki dampak lebih parah terhadap Tiongkok daripada apa yang dibayangkan orang.”

Rupiah gagal mengatrol posisi ke zona hijau meski cadangan Indonesia pada Januari 2020 dilaporkan naik ke level yang cukup impresif, yakni sebesar 131,7 miliar dolar AS dibandingkan dengan pencapaian Desember 2019 yang sebesar 129,2 miliar dolar AS. Mata uang domestik juga melemah meskipun terdapat optimisme pasar terhadap hubungan dagang AS dan China yang membaik setelah Negeri Panda mengumumkan akan menurunkan separuh impor.

Loading...