Gerak Terbatas, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – Setelah bergerak dalam kisaran yang relatif sempit, rupiah menyudahi Kamis (10/12) ini di teritori , di tengah kekhawatiran investor mengenai stimulus fiskal AS yang kemungkinan tidak akan cair. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.105 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis pukul 10.00 WIB, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.130 per dolar AS, menguat 30 poin atau 0,24% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.164 per dolar AS. Sebelumnya, pada dua transaksi beruntun sebelum libur Pilkada 2020, kurs tengah BI terpantau stagnan di posisi Rp14.164 per dolar AS.

“Secara lokal, fokus berikutnya adalah keputusan Bank Indonesia (BI) pada 17 Desember dan untuk saat ini kurs rupiah akan lebih digerakkan oleh kinerja dolar AS,” tutur head of research ANZ Singapura, Khoon Goh, dikutip dari Kontan. “Untuk jangka pendek, mata uang Garuda akan bergerak di rentang Rp14.050 hingga Rp14.200 per dolar AS.”

Dari pasar , pound sterling harus rela turun sebesar 0,22% ke level 1,3366 terhadap pada hari Kami, sedangkan euro datar di posisi 1,2081 melawan dolar AS, ketika pertemuan tiga jam antara pemimpin Inggris dan pada Rabu (9/12) malam waktu setempat gagal memecahkan kebuntuan Brexit. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, setuju bahwa keputusan tegas harus dibuat pada hari Minggu (13/12) mendatang.

Di sisi lain, gerak indeks dolar AS terpantau melemah seiring dengan kekhawatiran investor bahwa paket stimulus fiskal untuk bantuan corona di AS mungkin tidak akan datang. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,041 poin atau 0,05% ke level 91,046 pada pukul 14.37 WIB, setelah semalam diperdagangkan datar di posisi 91,081.

“(Dolar AS) semalam menguat karena kekhawatiran bahwa paket stimulus fiskal AS mungkin tidak akan datang,” ujar Kim Mundy, ekonom senior dan ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia, dilansir CNBC. “Greenback dapat menguat dalam waktu dekat jika Partai Demokrat dan Republik tidak dapat menyetujui ukuran dan sifat paket bantuan fiskal baru tahun ini. Namun, distribusi meningkatkan prospek ekonomi jangka pendek dan dapat membatasi kenaikan dolar AS.”

Loading...