Menanti Putusan Federal Reserve, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah - globalaktual.comRupiah - globalaktual.com

JAKARTA – mampu menjaga posisi di teritori hijau pada Rabu (29/1) sore, ketika perhatian pasar tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve di tengah kekhawatiran mengenai penyebaran virus corona. Menurut laporan Index pada pukul 15.49 WIB, Garuda menguat 10 poin atau 0,07% ke level Rp13.634 per .

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp13.634 per dolar AS, menguat 13 poin atau 0,09% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.647 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang juga mampu mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,19% menghampiri ringgit Malaysia.

Dilansir Reuters, mata uang berisiko mampu rebound, sedangkan aset safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss harus melorot dari level tertinggi sebelumnya, ketika kekhawatiran mengenai kemunduran akibat wabah virus corona sedikit mereda. Pasar agak sedikit stabil setelah aksi jual aset berisiko yang berlangsung Senin (27/1) hingga Selasa (28/1) kemarin.

Kemarin waktu setempat, Presiden China, Xi Jinping, mengatakan bahwa pihaknya yakin dapat mengatasi virus corona yang telah menewaskan setidaknya 106 orang. Namun, terlepas dari optimisme Xi, pemerintah Prancis dan Jepang mengorganisasi evakuasi, sedangkan Hong Kong berencana untuk menangguhkan relasi dan feri dengan China daratan.

Pasar saham global dan harga minyak telah anjlok dalam beberapa hari terakhir di tengah kekhawatiran virus ini akan semakin merusak ekonomi China yang sudah melemah. Itu juga secara singkat membalikkan kurva imbal hasil Treasury AS 10-tahun. Namun, pada Selasa sore, saham dan imbal hasil Treasury AS telah berbalik dan yuan China menguat 0,24% versus dolar AS, naik dari posisi terendah tiga minggu.

“Dengan sebagian besar pasar Asia ditutup, dan saya pikir mungkin satu-satunya cara investor bisa mendapatkan exposure ke pasar saham global adalah dengan membeli di pasar AS karena China ditutup, Hong Kong ditutup,” ujar ahli strategi mata uang dan suku bunga global di Macquarie Group, Thierry Wizman. “Mungkin itu sebabnya dolar AS lebih kuat. Jika itu masalahnya, maka itu akan berbalik pada saat pasar lain membuka kembali untuk berdagang.”

Saat ini, perhatian pasar berfokus pada rapat kebijakan Federal Reserve yang berlangsung selama dua hari dan akan berakhir Kamis (30/1) pagi WIB. Sejumlah ekonom memprediksi bahwa bank sentral AS tersebut masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan, meski ada sedikit ‘serangan’ dari Presiden AS, Donald Trump, untuk menurunkan suku bunga.

Loading...