Rupiah Berakhir Menguat Super Tipis Jelang Putusan Fed

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Rupiah mampu nangkring di zona hijau pada perdagangan Rabu (16/9) sore ketika fokus sepenuhnya tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang berlangsung pada tengah pekan ini. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat super tipis hanya 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.843 per dolar AS.

Sementara itu, menurut data yang diterbitkan pukul 10.00 pagi tadi, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.844 per dolar AS, menguat 26 poin dari transaksi sebelumnya di level Rp14.870 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,29% dialami baht Thailand.

Menurut analisis CNBC Indonesia, penguatan mata uang Benua Kuning didukung keberanian investor dalam mengoleksi aset berisiko lantaran ada kabar positif dari pengembangan antivirus corona. AstraZeneca dan Universitas Oxford melanjutkan tahap uji coba setelah pekan lalu sempat terhenti, sedangkan Pfizer dan BioNTech berencana memperluas uji coba tahap III dengan menggandeng 44 ribu relawan.

Jika uji coba ini sukses, maka vaksin buatan Pfizer dan BioNTech akan diajukan untuk mendapat persetujuan dari otoritas kesehatan AS pada awal Oktober mendatang. Kalau restu berhasil didapat, maka 100 juta dosis vaksin akan tersedia pada akhir tahun ini dan 1,3 miliar dosis pada akhir 2021. Perkembangan ini bahkan membuat AS, Donald Trump, percaya diri bahwa vaksin akan tersedia hanya dalam hitungan minggu.

Dari global, indeks dolar AS mencoba bangkit dari keterpurukan ketika fokus investor saat ini tertuju pada hasil rapat kebijakan Federal Reserve yang akan diumumkan pada Kamis (17/9) pagi WIB. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,031 poin atau 0,03% ke level 93,081 pada pukul 13.19 WIB, sedangkan yuan China harus menahan kenaikan.

“Ada perasaan di pasar bahwa mungkin The Fed akan mencoba untuk bertindak sesuai sikap dovish-nya,” kata analis mata uang senior di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril, dilansir Reuters. “Menurut pendapat kami, ada risiko bahwa Federal Reserve tidak melakukan lebih dari apa yang telah dilakukannya, yang dapat mengangkat imbal hasil AS dan membebani yen.”

Loading...