Rupiah Ditutup Melonjak 69 Poin Jelang Libur Panjang Imlek

rupiah melemah

mampu menutup Kamis (15/2) ini di zona hijau, setelah indeks kembali ke jalur pelemahan meski inflasi Paman Sam menunjukkan kenaikan. Menurut Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda berhasil mengakhiri transaksi sebelum libur Imlek dengan penguatan sebesar 69 poin atau 0,51% ke level Rp13.560 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berhasil mematahkan rentetan pelemahan sembilan hari dengan naik 22 poin atau 0,16% di posisi Rp13.629 per dolar AS pada tutup dagang Rabu (14/2) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka menguat 34 poin atau 0,25% ke level Rp13.595 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis bergerak nyaman di zona hijau, mulai awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.570 per dolar AS, melonjak 87 poin atau 0,64% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.657 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,94% menghampiri won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS kembali bergerak lebih rendah pada perdagangan Kamis, setelah sempat menguat sesaat usai data inflasi Paman Sam bulan Januari dilaporkan naik melebihi ekspektasi ekonom. Mata uang greenback terpantau 0,207 poin atau 0,23% ke level 88,914 pada pukul 10.52 WIB, sekaligus menyentuh level terendah dalam 15 bulan terhadap yen Jepang.

Seperti dilansir Reuters, indeks konsumen AS pada bulan Januari naik sedikit lebih tinggi dari perkiraan karena masyarakat Paman Sam membayar lebih untuk membeli bensin, menyewa , dan perawatan kesehatan. Di sisi lain, inflasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve bakal menaikkan suku bunga lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Meski demikian, data lain yang dirilis Rabu kemarin menunjukkan bahwa penjualan ritel di AS turun 0,3% di bulan kemarin, yang menandai penurunan terbesar dalam 11 bulan terakhir. Angka ini juga jauh di bawah proyeksi yang menyatakan bakal ada kenaikan sebesar 0,2%. “Kombinasi consumer price index AS yang mengejutkan dan data penjualan ritel yang lemah membuat berada dalam situasi genting,” tulis ahli strategi di CitiFX.

Loading...